APA ARTI SAHABAT
By: Anastasia Tita Pratiwi
@titapratiwi
“Dicky.. Kalau kita sudah lulus SMA nanti, kamu gak akan ngelupain aku kan? Kalau kamu udah pindah ke Jakarta, kamu gak akan lupa mampir ke kampungmu ini lagi kan untuk menemuiku lagi? Kamu gak akan ngelupain sahabat sejatimu ini kan Dicky?” “Tenang saja Tita, aku gak akan pernah ngelupain kamu sebagai sahabat sejatimu dan aku janji, aku akan balik lagi ke kampungku ini lagi” “JANJI?” “Yap, Dicky janji sama Tita” itulah percakapan terakhirku bersama sahabat sejatiku, Dicky Muhammad Prasetya 2 tahun yang lalu. Yah, aku memang baru bersahabat dengan Dicky selama duduk dibangku SMA ini. Tetapi walaupun baru 3 tahun bersahabat, aku dan Dicky sudah sangat saling mengenal dan kompak banget. Bahkan banyak orang yang mengatakan kalau kita itu pasangan yang serasi dan cocok banget menjadi pasangan. Tapi, kita berdua sudah berkomitmen untuk bersahabat selamanya. 3 tahun adalah masa yang lama. Sudah banyak sekali kenangan-kenangan yang kita lakuin bareng, dalam suka maupun duka. Banyak tempat yang menjadi kenangan terindah banget bagi aku dan Dicky. Di dekat kampung kami ada lahan sawah yang sangat luas, ditengah sawah itu ada pohon yang rindang dan tinggi sekali. Dan tebak, kami membuat rumah pohon diatas pohon itu. Bahkan, kami membuat itu berdua dan tidak ada campur tangan orang lain sedikitpun. Hebat bukan? Tetapi, karena Dicky ingin melanjutkan kuliahnya di Jakarta, terpaksa aku harus rela ditinggal pergi sahabatku sendiri dan tinggal sendiri di kampung. Sudah sekitar 2 tahun ini Dicky meninggalkanku. Sesekali jika aku merasa sangat kangen dengan dia, aku pergi ke rumah pohon yang dibuat oleh kami berdua. Biasanya diatas rumah pohon itu, kami melihat bintang pada malam hari dan melihat betapa indahnya langit pada malam hari.
Malam itu, aku merasa sangat kangen dengan sahabatku, Dicky. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumah pohon tempat favorit kami. Malam itu angin kencang menemaniku saat perjalanan menuju rumah pohon itu. Sepertinya udara malam itu tidak bersahabat denganku, tapi demi mengobati rasa kangenku aku harus pergi kesana! Harus! Sesampainya di atas rumah pohon itu, aku langsung berbaring dan melihat langit malam yang membentang luas di angkasa. Dan ternyata sedikit mengecewakan, malam itu awan sedikit mendung hingga tidak banyak bintang yang terlihat, hanya ada beberapa saja yang tersisa. “Tita, aku sayang kamu. Sayang banget” “Tentunya kamu sayang aku sebagai sahabat kan Dic?” tidak ada suara yang menjawab pertanyaanku, rupanya Dicky sudah tertidur pulas. Tiba-tiba aku teringat percakapan terakhir yang kita bicarakan di rumah pohon itu, semalam sebelum Dicky pergi. Dicky, aku kangen banget sama kamu. Kamu dimana? Gak ada kabar sama sekali, bahkan 2 tahun ini kamu sama sekali tidak mampir kesini. Apa kamu sudah lupa denganku? Sudah lupa dengan kenangan-kenangan kita disini? Apa kamu bisa melupakannya begitu saja? Please, Dicky aku kangen kamu. Kasih aku kabar. Sambil melihat bintang-bintang yang tersisa di angkasa, aku mengucapkan permohonanku, semoga bintang-bintang itu mau mengabulkannya. Sesaat sebelum aku turun dari rumah pohon itu, di salah satu bagian batang pohon aku melihat ada ukiran yang mengukir TITA, I LOVE YOU! Aku berhenti sejenak. Siapa yang mengukir ini? Dicky? Siapa lagi selain aku dan dia yang menaiki rumah pohon ini? Tapi? Apa mungkin? Kita hanya bersahabat selama ini. Apa mungkin?
Pagi ini aku bangun masih dengan 1000 pertanyaan di dalam benakku? Apa maksud dari semua ini? Tuhan? Kenapa? Kenapa aku jadi bingung seperti ini? Bantu aku Tuhan.
You know me so well
Girl, I need you (Girl, I need you)
Girl, I love you (Girl, I love you)
Girl, I heart you (Girl, I heart you)
I know you so well
Girl, I need you (Girl, I need you)
Girl, I love you (Girl, I love you)
Girl, I heart you (Girl, I heart you)
Itulah sepenggal lirik lagu boyband pendatang baru SM*SH yang beranggotakan Bisma, Rafael, Morgan, Reza, Ilham, Rangga dan Dicky. Tanpa disangka boyband tersebut langsung mendapat banyak perhatian dari remaja putri di seluruh Indonesia.................
Ha? Dicky? Muka itu? Itu kan? Dicky! Sahabatku! Tapi.... tapi kenapa dia banyak berubah? Dia salah satu personil boyband pendatang baru itu? Mana mungkin? Apa aku gak salah lihat? Dicky?
Semakin banyak pertanyaan yang membuat aku semakin penasaran selama ini. Kenapa Dicky tidak memberiku kabar? Kenapa dia tidak kembali kesini? Kenapa tiba-tiba aku melihat orang yang mirip dia di TV? Hhhh semuanya membikinku pusing tujuh keliling. Daripada bingung begini, mending aku ke Jakarta saja sekalian liburan ditempat tanteku, sekalian deh aku mencari Dicky disana.
Dua hari kemudian, aku berangakat ke Jakarta. Wow ternyata, Jakarta sangat luas. Maklum anak kampung baru masuk kota, hihi. Selama di Jakarta, aku menginap di tempat tanteku di daerah Kemayoran. “Tante, mau bantu aku gak?” “Bantu apa sayang?” “Bantu aku cari sahabatku yang sekarang tinggal di Jakarta” “Kamu kesini untuk cari sahabatmu yang hilang?” “Ya begitulah, gimana? Mau bantu gak nih tant?” “Ya tante usahain ya, tapi kamu sudah mendapatkan sedikit informasi tentang dia belum?” “Informasi? Apa ya? Oh, waktu itu aku seperti lihat orang yang mirip dia di TV. Tapi aku belum yakin tante itu dia apa bukan, itu loh dia salah satu personil boyband SM*SH itu. Tante tau?” “Boyband SM*SH? Dia salah satu personil SM*SH? Wah, kebetulan banget. Tante itu manager mereka” “Apa? Yang bener tante? Tante serius?” “Duarius sayang” “Apa salah satu dari mereka ada yang namanya Dicky tante?” “Oh Dicky, yang behelan dan pake kacamata itu? Ada kok, itu sahabat kamu?” “Hmmm sepertinya sih tante, kapan aku bisa ketemu dia?” “Ya tante usahakan ya, mereka lagi sibuk banget. Gampang deh ntar tante atur” “Oke, makasih ya tante!”
Gak nyangka banget, dunia ini emang sempit. Eh maksudnya Jakarta ini sih, haha. Ternyata tanteku itu manager boyband SM*SH itu, bener-bener gak nyangka deh. Tapi? Apa bener itu Dicky sahabatku? Itu dia? Kenapa dia berubah banget? Kayak bukan Dicky yang dulu. Jadi gak sabar ketemu, bener gak ya? Kalo itu bener dia, semoga sifatnya juga gak berubah deh, semoga masih sama seperti diri Dicky yang dulu.
Selama satu minggu aku menunggu kabar dari tante. Sampai akhirnya...........
Took....tok...tooook....
“Tita, boleh tante masuk?” “Boleh tante” tantepun masuk ke kamarku dan duduk di sebelahku. Dari sorot matanya, aku bisa memperkirakan bahwa dia akan memberikan berita buruk kepadaku. “Ada apa tante? Gimana? Aku sudah bisa bertemu dengan Dicky?” “Tita... maafkan tante, tante sudah membujuk Dicky. Tapi........” sebelum tante melanjutkan ceritanya, aku sudah tau bahwa “Dia sudah lupa denganku ya tante? Dan gak mau ketemu dengan aku lagi ya?” “Tita...maafkan tante ya...” “Sudah, sudah.. Tante gak usah merasa bersalah, ini semua bukan salah tante. Ini salahku sendiri kok, aku terlalu memaksakan diri” “Kamu yang sabar ya sayang. Tante yakin pasti dibalik semua ini ada sebabnya” aku hanya tersenyum menanggapi perkataan tante itu.
Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap untuk meninggalkan kota Jakarta. Ya, aku meninggalkan kota metropolitan ini dengan tangan kosong, aku tidak menemukan hasil sedikitpun. Setelah pulang dari Jakarta ini, aku berniat untuk melupakan Dicky selama-lamanya. Aku akan melupakan sosok seorang yang menurutku sahabat paling baik yang aku punya, tetapi kenyataannya dia melupakanku bahkan tidak mau bertemu dengan aku kembali setelah dia sukses di Jakarta. Apa itu yang namanya sahabat sejati? Mana perkataan dia yang dulu? Mana janji-janji dia yang dulu? Satu kata atau kalimat yang sudah dia ucapkan pun, tidak ada yang bisa dia tepati. Sahabat palsu! Aku benci Dicky! Aku benci dia selamanya!
Sudah 3 bulan aku menjalani semuanya, aku sudah melupakan sosok Dicky yang bisa dengan gampangnya melupakan dan tidak menganggapku lagi. Suatu malam, saat aku sedang berjalan di pinggiran sawah tiba-tiba aku melihat segerombolan cowok yang sedang terlihat kebingungan dan salah satu diantara mereka ada yang terluka parah. “Hei, kalian baik-baik saja?” aku menghampiri mereka dan berniat untuk menolong mereka yang sedang kebingungan. “Aduh, akhirnya ada yang menolong. Hmm mbak, bisa tolong kami? Kami tersesat dan tadi ada segerombol penjahat berniat merampok kami dan teman kami ini menjadi korbannya. Mbak mau kan menolong kami?” “Ma..mmmm” apa? Orang yang terluka itu? Sepertinya aku kenal dengannya? Bukannya dia? “Dic...dickyyyy?” “Ha? Mbak kenal dia? Ohya lupa, siapa sih yang gak kenal kita? Haha” ucap salah satu dari antara 6 cowok itu. “Jadi kalian? SM*SH itu? Dan yang terluka itu, benar namanya Dicky?” “Iya, betul sekali mbaaak. Ayo cepat mau menolong kami tidak?” “Hmm...gimana ya? Mmm, baiklah” akhirnya, aku membawa mereka ke rumahku. Rumah yang sederhana, kecil tapi masih layak huni. Aku mempersilahkan mereka untuk beristirahat di kamar kosong yang ada dirumahku, sedangkan Dicky aku yang mengobatinya. “Sudah, kalian istirahat saja. Biar teman kalian ini aku yang mengurusnya” Mereka pun masuk ke kamar yang sudah aku sediakan. Sementara Dicky, luka yang ada di tubuhnya sudah aku obati semua dan tinggal nunggu mengering saja. Karena tidak tega dengan “mantan sahabat” sendiri, aku bersusah payah membawanya ke kamarku dan membiarkan dia tidur dengan nyaman dikamarku sedangkan aku tidur di ruang tamu.
Apa maksud semua ini Tuhan? Aku dipertemukan lagi dengan sahabat lamaku? Dicky? Sekarang dia tidur di kamarku? Apa ini semua mimpi? Aku sudah berhasil melupakan sosoknya, tetapi kenapa tiba-tiba dia muncul kembali di dalam kehidupanku? Apa maksud dari semua ini Tuhan? Bagaimana besok? Saat dia sudah bangun? Apa yang harus aku katakan? Sepanjang malam aku memikirkan hal itu. Sampai-sampai aku baru bisa menutup mata pukul 03.00 WIB. Baru sebentar aku menutup mata, tiba-tiba “Tita?” “Hmm...ee...eh..Dic..Dicky? Kamu sudah sadar?” “Tita? Kamu Tita? Sahabat SMA-ku dulu?” “Jadi? Kamu masih ingat denganku?” tiba-tiba nada bicaraku menjadi dingin dan sedikit ketus. “Tentu, tentu saja aku masih ingat denganmu. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu? Aku tidak akan mengingkari janjiku kepadamu” “ohya? Tidak mengingkari? Bagaimana tidak? 3 bulan yang lalu, aku menyusulmu ke Jakarta! Aku berusaha mencarimu dan ternyata tanteku adalah manager boyband kalian! Dan waktu itu tanteku berusaha membantuku untuk bisa menemuimu, tapi apa? Kamu tidak mau bertemu denganku kan?” “Tita.. semua itu salah. Kamu hanya salah paham saja, dengarkan penjelasanku dulu” “Apa lagi yang perlu dijelaskan? Sudahlah, aku sudah ngantuk! Gak ada yang perlu dibicarakan lagikan? Kamu juga sudah baikan kan? Yasudah, aku mau tidur. Capek. Besok pagi kalian bisa langsung pergi saja dari rumahku dan jangan menggangguku lagi. Ingat itu!” tanpa melihat wajah Dicky, aku langsung menuju kamar dan menutup pintu kamarku dengan keras. Terdengar diluar suara teman-teman Dicky yang sibuk menanyakan apa yang telah terjadi. Tanpa pikir panjang, aku langsung membantingkan badanku ke kasur dan tanpa terasa aku telah meneteskan air mata. Apa yang telah aku lakukan tadi? Pasti Dicky sangat kaget dan sakit hati mendengar perkataanku tadi. Bodoh! Aku bodoh! Seharusnya aku gak berbicara sekasar tadi dengan Dicky, toh dia mau menjelaskan semua, tetapi akunya saja yang terlalu egois.
Pagi itu aku bangun dengan pikiran yang sangat berat, aku teringat akan kejadian semalam yang masih membuatku merasa bersalah dengan Dicky. Aku keluar kamar dengan langkah yang terseret-seret dan ternyata, mereka semua telah pergi, mereka sudah menuruti perkataanku semalam. Dan hanya ada satu yang tertinggal di meja, sepucuk surat yang tertinggal.
Tita, aku menulis surat ini hanya untuk meminta maaf kepadamu. Semua yang aku lakukan 3 bulan yang lalu memang salah dan tak sepantasnya aku melakukan hal itu terhadapmu. Maaf, aku belum bisa menjadi sahabat sejati untukmu. Maaf, aku belum bisa menjadi sahabat yang sempurna. Maaf, karena aku belum bisa menepati semua janjiku kepadamu. Tapi aku melakukan semua ini karena sebuah alasan, alasan yang tidak bisa aku katakan sekarang tapi pasti secepatnya kamu akan mengetahui semuanya. Aku yakin secepatnya. Dan jika suatu saat kamu tidak akan bertemu lagi denganku, aku mohon jangan lupakan sahabatmu ini. Walaupun aku sudah melakukan banyak kesalahan terhadapmu, aku mohon jangan lupakan aku dan kenanglah aku selalu di hatimu. SELAMANYA. Maaf maaf dan maaf.
Dicky,
Orang yang gagal menjadi Sahabat Sejatimu
Apa maksud semua ini Dicky? Apa alasan itu? Kau semakin membuatku penasaran. Kenapa kita dipisahkan kembali saat kita sudah bertemu lagi Dicky? Apa kita tidak diijinkan menjadi sahabat sejati oleh Tuhan? Kenapa semua ini harus terjadi?
Malam itu aku bertekat untuk naik ke rumah pohon, tempat favoritku dan Dicky dulu. Tetapi cuaca sama sekali tidak mendukung. Angin berhembus sangat kencang dan air hujan pun mulai menetes dari atas langit. Suasana malam itu sama seperti dengan suasana hatiku sekarang ini. Aku berdiri di dekat jendela dan melihat tetesan-tetesan air hujan yang tersisa dari langit, malam itu sudah lewat dari pukul 00.00 WIB, tetapi aku sama sekali belum bisa memejamkan mata. Ada apa? Kenapa perasaanku tidak enak? Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi? Dicky? Tiba-tiba aku memikirkannya lagi. Ada apa dengan Dicky? Hmmm, pasti dia baik-baik saja. Pasti sekarang dia sedang sibuk mengurusi album baru yang diberitakan di infotainment TV setiap hari. Lalu? Ada apa dengan perasaanku ini? Ya Tuhan........
“Apa tante? Dicky meninggal? Tante gak bohong sama aku kan? Sakit leukimia? Serius? Besok? Jam 10.00 WIB? Oke, aku akan segera kesana” Apa? Dicky meninggal? Aku masih tidak mempercayainya. Dia akan meninggalkanku untuk selamanya sekarang. Bukan hanya untuk beberapa tahun saja, tapi untuk selamanya? Jadi? Jadi semua ini alasannya? Tapi kenapa dia tidak mau cerita denganku tentang penyakitnya ini? Aku sahabatnya dan aku siap mendengarkan semua keluh kesahnya. Aku bisa menemaninya di masa-masa terakhirnya. Tapi ini?
Aku hanya bisa menangis dan menangis melihat jasad Dicky Muhammad Prasetya yang sudah terbaring lemah dan kaku didepanku. Kenapa Tuhan? Kenapa secepat ini? Aku sayang Dicky Tuhan, aku gak rela ditinggal sendiri dengannya.
Di tanganku, aku menggenggam surat yang dia titipkan untukku.
Tita, kamu pasti sekarang sudah tau kan? Kenapa aku melakukan semua ini? Kenapa aku mengingkari janjiku kepadamu? Apa kamu masih marah denganku? Aku harap kamu sudah tidak punya rasa marah sama aku, supaya aku bisa hidup tenang disana. Aku yakin, disaat aku pergi nanti kamu akan menemukan sahabat sejati yang sesungguhnya. Aku janji Tita, aku akan melindungimu dari jauh. Aku akan selalu disampingmu walaupun kamu tidak bisa melihat aku. Jangan pernah lupakan aku ya Tita. Simpan dan kenang aku di hatimu untuk selamanya ya. I love you more than you know. I love you always.
Dicky Muhammad Prasetya
Tess..Tess.. Air mataku keluar dengan derasnya. Aku masih tidak percaya sosok Dicky akan meninggalkanku untuk selamanya, tetapi tiba-tiba........
Saat membaca surat itu, dadaku terasa begitu sesak. Sangat sesak dan sesak sekali. Untuk bernafas pun rasanya sangat sulit. Beberapa detik kemudian, jantungku sudah berhenti berdetak. Ya, aku telah menyusul sosok sahabatku ,Dicky. Aku sudah ikut dengan tenang dan damai bersamanya. Kami telah bersail menjadi sahabat sejati untuk selamanya disana. Kami selalu bersama dalam suka maupun duka. Dicky sudah menepati janjinya untuk selalu melindungiku dan selalu berada disampingku. Aku sudah menemukannya, menemukan sahabat sejatiku. DICKY, I LOVE YOU ALWAYS AND FOREVER.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar