Laman

Kamis, 24 Maret 2011

THE FIFTH STORY

APA ARTI SAHABAT
By: Anastasia Tita Pratiwi
@titapratiwi

“Dicky.. Kalau kita sudah lulus SMA nanti, kamu gak akan ngelupain aku kan? Kalau kamu udah pindah ke Jakarta, kamu gak akan lupa mampir ke kampungmu ini lagi kan untuk menemuiku lagi? Kamu gak akan ngelupain sahabat sejatimu ini kan Dicky?” “Tenang saja Tita, aku gak akan pernah ngelupain kamu sebagai sahabat sejatimu dan aku janji, aku akan balik lagi ke kampungku ini lagi” “JANJI?” “Yap, Dicky janji sama Tita” itulah percakapan terakhirku bersama sahabat sejatiku, Dicky Muhammad Prasetya 2 tahun yang lalu. Yah, aku memang baru bersahabat dengan Dicky selama duduk dibangku SMA ini. Tetapi walaupun baru 3 tahun bersahabat, aku dan Dicky sudah sangat saling mengenal dan kompak banget. Bahkan banyak orang yang mengatakan kalau kita itu pasangan yang serasi dan cocok banget menjadi pasangan. Tapi, kita berdua sudah berkomitmen untuk bersahabat selamanya. 3 tahun adalah masa yang lama. Sudah banyak sekali kenangan-kenangan yang kita lakuin bareng, dalam suka maupun duka. Banyak tempat yang menjadi kenangan terindah banget bagi aku dan Dicky. Di dekat kampung kami ada lahan sawah yang sangat luas, ditengah sawah itu ada pohon yang rindang dan tinggi sekali. Dan tebak, kami membuat rumah pohon diatas pohon itu. Bahkan, kami membuat itu berdua dan tidak ada campur tangan orang lain sedikitpun. Hebat bukan? Tetapi, karena Dicky ingin melanjutkan kuliahnya di Jakarta, terpaksa aku harus rela ditinggal pergi sahabatku sendiri dan tinggal sendiri di kampung. Sudah sekitar 2 tahun ini Dicky meninggalkanku. Sesekali jika aku merasa sangat kangen dengan dia, aku pergi ke rumah pohon yang dibuat oleh kami berdua. Biasanya diatas rumah pohon itu, kami melihat bintang pada malam hari dan melihat betapa indahnya langit pada malam hari.
Malam itu, aku merasa sangat kangen dengan sahabatku, Dicky. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumah pohon tempat favorit kami. Malam itu angin kencang menemaniku saat perjalanan menuju rumah pohon itu. Sepertinya udara malam itu tidak bersahabat denganku, tapi demi mengobati rasa kangenku aku harus pergi kesana! Harus! Sesampainya di atas rumah pohon itu, aku langsung berbaring dan melihat langit malam yang membentang luas di angkasa. Dan ternyata sedikit mengecewakan, malam itu awan sedikit mendung hingga tidak banyak bintang yang terlihat, hanya ada beberapa saja yang tersisa. “Tita, aku sayang kamu. Sayang banget” “Tentunya kamu sayang aku sebagai sahabat kan Dic?” tidak ada suara yang menjawab pertanyaanku, rupanya Dicky sudah tertidur pulas. Tiba-tiba aku teringat percakapan terakhir yang kita bicarakan di rumah pohon itu, semalam sebelum Dicky pergi. Dicky, aku kangen banget sama kamu. Kamu dimana? Gak ada kabar sama sekali, bahkan 2 tahun ini kamu sama sekali tidak mampir kesini. Apa kamu sudah lupa denganku? Sudah lupa dengan kenangan-kenangan kita disini? Apa kamu bisa melupakannya begitu saja? Please, Dicky aku kangen kamu. Kasih aku kabar. Sambil melihat bintang-bintang yang tersisa di angkasa, aku mengucapkan permohonanku, semoga bintang-bintang itu mau mengabulkannya. Sesaat sebelum aku turun dari rumah pohon itu, di salah satu bagian batang pohon aku melihat ada ukiran yang mengukir TITA, I LOVE YOU! Aku berhenti sejenak. Siapa yang mengukir ini? Dicky? Siapa lagi selain aku dan dia yang menaiki rumah pohon ini? Tapi? Apa mungkin? Kita hanya bersahabat selama ini. Apa mungkin?
Pagi ini aku bangun masih dengan 1000 pertanyaan di dalam benakku? Apa maksud dari semua ini? Tuhan? Kenapa? Kenapa aku jadi bingung seperti ini? Bantu aku Tuhan.

You know me so well
Girl, I need you (Girl, I need you)
Girl, I love you (Girl, I love you)
Girl, I heart you (Girl, I heart you)

I know you so well
Girl, I need you (Girl, I need you)
Girl, I love you (Girl, I love you)
Girl, I heart you (Girl, I heart you)

Itulah sepenggal lirik lagu boyband pendatang baru SM*SH yang beranggotakan Bisma, Rafael, Morgan, Reza, Ilham, Rangga dan Dicky. Tanpa disangka boyband tersebut langsung mendapat banyak perhatian dari remaja putri di seluruh Indonesia.................
Ha? Dicky? Muka itu? Itu kan? Dicky! Sahabatku! Tapi.... tapi kenapa dia banyak berubah? Dia salah satu personil boyband pendatang baru itu? Mana mungkin? Apa aku gak salah lihat? Dicky?
Semakin banyak pertanyaan yang membuat aku semakin penasaran selama ini. Kenapa Dicky tidak memberiku kabar? Kenapa dia tidak kembali kesini? Kenapa tiba-tiba aku melihat orang yang mirip dia di TV? Hhhh semuanya membikinku pusing tujuh keliling. Daripada bingung begini, mending aku ke Jakarta saja sekalian liburan ditempat tanteku, sekalian deh aku mencari Dicky disana.
Dua hari kemudian, aku berangakat ke Jakarta. Wow ternyata, Jakarta sangat luas. Maklum anak kampung baru masuk kota, hihi. Selama di Jakarta, aku menginap di tempat tanteku di daerah Kemayoran. “Tante, mau bantu aku gak?” “Bantu apa sayang?” “Bantu aku cari sahabatku yang sekarang tinggal di Jakarta” “Kamu kesini untuk cari sahabatmu yang hilang?” “Ya begitulah, gimana? Mau bantu gak nih tant?” “Ya tante usahain ya, tapi kamu sudah mendapatkan sedikit informasi tentang dia belum?” “Informasi? Apa ya? Oh, waktu itu aku seperti lihat orang yang mirip dia di TV. Tapi aku belum yakin tante itu dia apa bukan, itu loh dia salah satu personil boyband SM*SH itu. Tante tau?” “Boyband SM*SH? Dia salah satu personil SM*SH? Wah, kebetulan banget. Tante itu manager mereka” “Apa? Yang bener tante? Tante serius?” “Duarius sayang” “Apa salah satu dari mereka ada yang namanya Dicky tante?” “Oh Dicky, yang behelan dan pake kacamata itu? Ada kok, itu sahabat kamu?” “Hmmm sepertinya sih tante, kapan aku bisa ketemu dia?” “Ya tante usahakan ya, mereka lagi sibuk banget. Gampang deh ntar tante atur” “Oke, makasih ya tante!”
Gak nyangka banget, dunia ini emang sempit. Eh maksudnya Jakarta ini sih, haha. Ternyata tanteku itu manager boyband SM*SH itu, bener-bener gak nyangka deh. Tapi? Apa bener itu Dicky sahabatku? Itu dia? Kenapa dia berubah banget? Kayak bukan Dicky yang dulu. Jadi gak sabar ketemu, bener gak ya? Kalo itu bener dia, semoga sifatnya juga gak berubah deh, semoga masih sama seperti diri Dicky yang dulu.
Selama satu minggu aku menunggu kabar dari tante. Sampai akhirnya...........
Took....tok...tooook....
“Tita, boleh tante masuk?” “Boleh tante” tantepun masuk ke kamarku dan duduk di sebelahku. Dari sorot matanya, aku bisa memperkirakan bahwa dia akan memberikan berita buruk kepadaku. “Ada apa tante? Gimana? Aku sudah bisa bertemu dengan Dicky?” “Tita... maafkan tante, tante sudah membujuk Dicky. Tapi........” sebelum tante melanjutkan ceritanya, aku sudah tau bahwa “Dia sudah lupa denganku ya tante? Dan gak mau ketemu dengan aku lagi ya?” “Tita...maafkan tante ya...” “Sudah, sudah.. Tante gak usah merasa bersalah, ini semua bukan salah tante. Ini salahku sendiri kok, aku terlalu memaksakan diri” “Kamu yang sabar ya sayang. Tante yakin pasti dibalik semua ini ada sebabnya” aku hanya tersenyum menanggapi perkataan tante itu.
Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap untuk meninggalkan kota Jakarta. Ya, aku meninggalkan kota metropolitan ini dengan tangan kosong, aku tidak menemukan hasil sedikitpun. Setelah pulang dari Jakarta ini, aku berniat untuk melupakan Dicky selama-lamanya. Aku akan melupakan sosok seorang yang menurutku sahabat paling baik yang aku punya, tetapi kenyataannya dia melupakanku bahkan tidak mau bertemu dengan aku kembali setelah dia sukses di Jakarta. Apa itu yang namanya sahabat sejati? Mana perkataan dia yang dulu? Mana janji-janji dia yang dulu? Satu kata atau kalimat yang sudah dia ucapkan pun, tidak ada yang bisa dia tepati. Sahabat palsu! Aku benci Dicky! Aku benci dia selamanya!
Sudah 3 bulan aku menjalani semuanya, aku sudah melupakan sosok Dicky yang bisa dengan gampangnya melupakan dan tidak menganggapku lagi. Suatu malam, saat aku sedang berjalan di pinggiran sawah tiba-tiba aku melihat segerombolan cowok yang sedang terlihat kebingungan dan salah satu diantara mereka ada yang terluka parah. “Hei, kalian baik-baik saja?” aku menghampiri mereka dan berniat untuk menolong mereka yang sedang kebingungan. “Aduh, akhirnya ada yang menolong. Hmm mbak, bisa tolong kami? Kami tersesat dan tadi ada segerombol penjahat berniat merampok kami dan teman kami ini menjadi korbannya. Mbak mau kan menolong kami?” “Ma..mmmm” apa? Orang yang terluka itu? Sepertinya aku kenal dengannya? Bukannya dia? “Dic...dickyyyy?” “Ha? Mbak kenal dia? Ohya lupa, siapa sih yang gak kenal kita? Haha” ucap salah satu dari antara 6 cowok itu. “Jadi kalian? SM*SH itu? Dan yang terluka itu, benar namanya Dicky?” “Iya, betul sekali mbaaak. Ayo cepat mau menolong kami tidak?” “Hmm...gimana ya? Mmm, baiklah” akhirnya, aku membawa mereka ke rumahku. Rumah yang sederhana, kecil tapi masih layak huni. Aku mempersilahkan mereka untuk beristirahat di kamar kosong yang ada dirumahku, sedangkan Dicky aku yang mengobatinya. “Sudah, kalian istirahat saja. Biar teman kalian ini aku yang mengurusnya” Mereka pun masuk ke kamar yang sudah aku sediakan. Sementara Dicky, luka yang ada di tubuhnya sudah aku obati semua dan tinggal nunggu mengering saja. Karena tidak tega dengan “mantan sahabat” sendiri, aku bersusah payah membawanya ke kamarku dan membiarkan dia tidur dengan nyaman dikamarku sedangkan aku tidur di ruang tamu.
Apa maksud semua ini Tuhan? Aku dipertemukan lagi dengan sahabat lamaku? Dicky? Sekarang dia tidur di kamarku? Apa ini semua mimpi? Aku sudah berhasil melupakan sosoknya, tetapi kenapa tiba-tiba dia muncul kembali di dalam kehidupanku? Apa maksud dari semua ini Tuhan? Bagaimana besok? Saat dia sudah bangun? Apa yang harus aku katakan? Sepanjang malam aku memikirkan hal itu. Sampai-sampai aku baru bisa menutup mata pukul 03.00 WIB. Baru sebentar aku menutup mata, tiba-tiba “Tita?” “Hmm...ee...eh..Dic..Dicky? Kamu sudah sadar?” “Tita? Kamu Tita? Sahabat SMA-ku dulu?” “Jadi? Kamu masih ingat denganku?” tiba-tiba nada bicaraku menjadi dingin dan sedikit ketus. “Tentu, tentu saja aku masih ingat denganmu. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu? Aku tidak akan mengingkari janjiku kepadamu” “ohya? Tidak mengingkari? Bagaimana tidak? 3 bulan yang lalu, aku menyusulmu ke Jakarta! Aku berusaha mencarimu dan ternyata tanteku adalah manager boyband kalian! Dan waktu itu tanteku berusaha membantuku untuk bisa menemuimu, tapi apa? Kamu tidak mau bertemu denganku kan?” “Tita.. semua itu salah. Kamu hanya salah paham saja, dengarkan penjelasanku dulu” “Apa lagi yang perlu dijelaskan? Sudahlah, aku sudah ngantuk! Gak ada yang perlu dibicarakan lagikan? Kamu juga sudah baikan kan? Yasudah, aku mau tidur. Capek. Besok pagi kalian bisa langsung pergi saja dari rumahku dan jangan menggangguku lagi. Ingat itu!” tanpa melihat wajah Dicky, aku langsung menuju kamar dan menutup pintu kamarku dengan keras. Terdengar diluar suara teman-teman Dicky yang sibuk menanyakan apa yang telah terjadi. Tanpa pikir panjang, aku langsung membantingkan badanku ke kasur dan tanpa terasa aku telah meneteskan air mata. Apa yang telah aku lakukan tadi? Pasti Dicky sangat kaget dan sakit hati mendengar perkataanku tadi. Bodoh! Aku bodoh! Seharusnya aku gak berbicara sekasar tadi dengan Dicky, toh dia mau menjelaskan semua, tetapi akunya saja yang terlalu egois.
Pagi itu aku bangun dengan pikiran yang sangat berat, aku teringat akan kejadian semalam yang masih membuatku merasa bersalah dengan Dicky. Aku keluar kamar dengan langkah yang terseret-seret dan ternyata, mereka semua telah pergi, mereka sudah menuruti perkataanku semalam. Dan hanya ada satu yang tertinggal di meja, sepucuk surat yang tertinggal.

Tita, aku menulis surat ini hanya untuk meminta maaf kepadamu. Semua yang aku lakukan 3 bulan yang lalu memang salah dan tak sepantasnya aku melakukan hal itu terhadapmu. Maaf, aku belum bisa menjadi sahabat sejati untukmu. Maaf, aku belum bisa menjadi sahabat yang sempurna. Maaf, karena aku belum bisa menepati semua janjiku kepadamu. Tapi aku melakukan semua ini karena sebuah alasan, alasan yang tidak bisa aku katakan sekarang tapi pasti secepatnya kamu akan mengetahui semuanya. Aku yakin secepatnya. Dan jika suatu saat kamu tidak akan bertemu lagi denganku, aku mohon jangan lupakan sahabatmu ini. Walaupun aku sudah melakukan banyak kesalahan terhadapmu, aku mohon jangan lupakan aku dan kenanglah aku selalu di hatimu. SELAMANYA. Maaf maaf dan maaf.
Dicky,
Orang yang gagal menjadi Sahabat Sejatimu

Apa maksud semua ini Dicky? Apa alasan itu? Kau semakin membuatku penasaran. Kenapa kita dipisahkan kembali saat kita sudah bertemu lagi Dicky? Apa kita tidak diijinkan menjadi sahabat sejati oleh Tuhan? Kenapa semua ini harus terjadi?
Malam itu aku bertekat untuk naik ke rumah pohon, tempat favoritku dan Dicky dulu. Tetapi cuaca sama sekali tidak mendukung. Angin berhembus sangat kencang dan air hujan pun mulai menetes dari atas langit. Suasana malam itu sama seperti dengan suasana hatiku sekarang ini. Aku berdiri di dekat jendela dan melihat tetesan-tetesan air hujan yang tersisa dari langit, malam itu sudah lewat dari pukul 00.00 WIB, tetapi aku sama sekali belum bisa memejamkan mata. Ada apa? Kenapa perasaanku tidak enak? Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi? Dicky? Tiba-tiba aku memikirkannya lagi. Ada apa dengan Dicky? Hmmm, pasti dia baik-baik saja. Pasti sekarang dia sedang sibuk mengurusi album baru yang diberitakan di infotainment TV setiap hari. Lalu? Ada apa dengan perasaanku ini? Ya Tuhan........
“Apa tante? Dicky meninggal? Tante gak bohong sama aku kan? Sakit leukimia? Serius? Besok? Jam 10.00 WIB? Oke, aku akan segera kesana” Apa? Dicky meninggal? Aku masih tidak mempercayainya. Dia akan meninggalkanku untuk selamanya sekarang. Bukan hanya untuk beberapa tahun saja, tapi untuk selamanya? Jadi? Jadi semua ini alasannya? Tapi kenapa dia tidak mau cerita denganku tentang penyakitnya ini? Aku sahabatnya dan aku siap mendengarkan semua keluh kesahnya. Aku bisa menemaninya di masa-masa terakhirnya. Tapi ini?
Aku hanya bisa menangis dan menangis melihat jasad Dicky Muhammad Prasetya yang sudah terbaring lemah dan kaku didepanku. Kenapa Tuhan? Kenapa secepat ini? Aku sayang Dicky Tuhan, aku gak rela ditinggal sendiri dengannya.
Di tanganku, aku menggenggam surat yang dia titipkan untukku.

Tita, kamu pasti sekarang sudah tau kan? Kenapa aku melakukan semua ini? Kenapa aku mengingkari janjiku kepadamu? Apa kamu masih marah denganku? Aku harap kamu sudah tidak punya rasa marah sama aku, supaya aku bisa hidup tenang disana. Aku yakin, disaat aku pergi nanti kamu akan menemukan sahabat sejati yang sesungguhnya. Aku janji Tita, aku akan melindungimu dari jauh. Aku akan selalu disampingmu walaupun kamu tidak bisa melihat aku. Jangan pernah lupakan aku ya Tita. Simpan dan kenang aku di hatimu untuk selamanya ya. I love you more than you know. I love you always.
Dicky Muhammad Prasetya

Tess..Tess.. Air mataku keluar dengan derasnya. Aku masih tidak percaya sosok Dicky akan meninggalkanku untuk selamanya, tetapi tiba-tiba........
Saat membaca surat itu, dadaku terasa begitu sesak. Sangat sesak dan sesak sekali. Untuk bernafas pun rasanya sangat sulit. Beberapa detik kemudian, jantungku sudah berhenti berdetak. Ya, aku telah menyusul sosok sahabatku ,Dicky. Aku sudah ikut dengan tenang dan damai bersamanya. Kami telah bersail menjadi sahabat sejati untuk selamanya disana. Kami selalu bersama dalam suka maupun duka. Dicky sudah menepati janjinya untuk selalu melindungiku dan selalu berada disampingku. Aku sudah menemukannya, menemukan sahabat sejatiku. DICKY, I LOVE YOU ALWAYS AND FOREVER.

THE FOURTH STORY

PACARKU, PENYIAR RADIOKU, PEMBANDAR NARKOBAKU
By: Anastasia Tita Pratiwi
@titapratiwi

“Hallooo... selamat malam SMASHBLAST! Ketemu lagi nih dengan saya Bisma Karisma, sang penyiar radio yang tampan yang selalu setia menemani para SMASHBLAST diseluruh kota Bandung ini. Dimana lagi kalau bukan di radio SM*SH, radio inspirasi para remaja!” Akhirnya, siaran radio kesayanganku sudah mulai juga, hmmm... Seperti biasa, aku gak mau ketinggalan ndengerin siaran radio SM*SH ini. Remaja cewek mana sih yang mau ketinggalan siaran radio dengan penyiarnya yang sangat ganteng dan punya suara yang sangat khas dan bisa membuat hati para penggemarnya cenat-cenut ini? BISMA KARISMA! Ya, dia adalah penyiar radio SM*SH yang mempunyai seabrek fans remaja-remaja cewek ini. Wajahnya yang sangat ganteng, berbehel dan cool ini emang gampang banget menarik perhatian para cewek-cewek Bandung, apalagi kalau dia sudah mengeluarkan suaranya dan mulai mengoceh di radio SM*SH setiap sore jam 6.00 ini. WAW? MANA ADA YANG MAU KETINGGALAN! Andaikan saja aku bisa bertemu dia, menatapnya dan berbicara empat mata dengan dia.... Andaikan saja, andaikan saja, andaikan saja.... Hanya kata-kata itu yang bisa kuucapkan tiap malam, hanya bisa berharap pada Tuhan dan menunggu keajaibannya saja.
Kukuruyuuuuuuuuukkkkkkkk..............
Sudah terdengar suara ayam jago lagi. Wah sudah pagi lagi dong, hmmmm males sekolah deh hari ini, batinku. Yah seperti biasa aku selalu malas bangun pagi, belum lagi kesekolah harus naik bis. Udah dandan rapi dan wangi, eh sampai sekolah udah bau lagi gara-gara kedempet-dempet di bis. Huhhhhhhh.......... mengeluh karena berangkat naik bis sih, sudah biasa di telinga kedua orangtuaku. Mereka sudah kebal hhhh! Dengan setengah semangat aku berangkat menuju sekolah naik bis, dan untungnya bis pagi itu masih sepi karena aku bangun lebih pagi. Hmmm kalo gini kan enak, batinku. Setelah sampai depan gerbang sekolah, kulihat banyak anak sedang bergerombol didekat ruang kepala sekolah. Ada apa sih? Aku bertanya-tanya dalam hati. Yah palingan anak baru, gak penting ah! Aku menyusuri lorong sekolah dan akan menuju ke kelas, baru satu langkah memasuki ruang kelas, tiba-tiba.............. “TITAAAAAAAA!!!” hah suara itu, suara si Vanya, sahabatku sejak SD. Aku sudah sangat hafal dengan suaranya, suaranya yang sangat keras itu pasti dia! “Apasih Nya? Pagi-pagi udah ribut aja, berisik ah!” “Ah, kamu kenapa sih? Aku punya berita baru nih, penting!” “apa? Ada anak baru disekolah kita?” “Nah! Itu kamu pintar! Eh kok kamu tau?” “Iya tau dong, apasih yang Tita gak tau haha” “Eh tau gak? Gak cuman itu! Anak barunya cakeeeepppp banget Tit! Wuih, perfect banget deh!” “Ha? Yakin kamu? Mana ada orang perfect didunia ini selain si Bisma Karisma, si penyiar radio kesayanganku itu?” “Yaampun, Tita....Titaa... kapan sih kamu berhenti berharap tentang si penyiar radio itu? Kamu pengen pacaran sama dia? Impossible banget tau gak!!” “Kamu nih sahabatku atau bukan sih? Bukannya seharusnya nyupport aku malah sebaliknya! Hah kamu itu!” karena aku merasa kesal, akhirnya aku membentaknya. “Eh Tita, jangan marah donggg.........” Vanya masih sibuk meminta maaf kepadaku, tetapi aku mengacuhkan dan meninggalkannya.
“Selamat pagi anak-anak” “Selamat pagi Bu Icha” hmmmm, hari ini pasti akan sangat membosankan karena aku harus duduk sendiri hari ini, batinku. Ya karena masih marah dengan Vanya, akhirnya aku memutuskan untuk duduk sendiri saja. “Anak-anak, pagi ini Ibu akan mengenalkan teman baru kepada kalian semua. Nama dia adalah Mamang. Dia pindahan dari Bandung. Mamang, silahkan masuk” bu Icha menjelaskan panjang lebar. Oh ternyata, anak baru itu sekarang menjadi salah satu bagian dari kelasku. Seperti apasih anaknya? Apa sama seperti yang Vanya katakan? Jadi penasaran.
Plakkk....plak...plaakkkk...
Suara sepatu sang Mamang sudah mulai terdengar dan OHMYGOD! Kenapa cowok yang berdiri didepan kelas itu ciri-cirinya sama seperti ciri-ciri sang penyiar Bisma Karisma itu? Gigi yang berbehel, tinggi badan sekitar 165 cm dan cowok itu cool banget! Mirip banget sama Bisma! Tapi mana mungkin itu Bisma? Namanya aja udah beda jauh. Mamang dan Bisma. Tapi kenapa bisa mirip banget kayak gitu? Masa sih saudara kembar? Gak mungkin ah, setauku Bisma anak satu-satunya dari kedua orangtuanya. Aaaaah tauk ah! Gak penting deh mikirin kemiripan si Mamang dan Bisma, yang penting cuma ada Bisma dihatiku hihi. Karena terlalu asyik memikirkan si Bisma, sampai-sampai aku gak sadar kalo bangku kosong disebelahku sudah ada yang mengisinya. What? Aku duduk sama anak baru itu? Mimpi apa aku semalam? Dari tampangnya aja udah kelihatan kalo dia itu orangnya cuek dan gak asyik banget. Tapi kenapa ya? Setiap melihat Mamang, aku seperti melihat Bisma saja? Wah sudah Tita, jangan mulai ngelantur. “Heh, ngalamun saja!” aku terkaget karena tiba-tiba orang disebelahku mengagetkanku. “Hehehe” aku hanya tertawa saja. “Eh malah ketawa, udah gila ya?” cibir anak baru itu. “Apaan sih? Malah ngatain aku gila? Anak baru udah mau bikin masalah aja nih sama aku?” kataku galak. “Yaelah, cewek kok galak amat sih? Ntar jadi perawan tua loh” “Ih, amit-amit deh. Jangan sampe” “Makanya jangan galak-galak dong jadi cewek” Aku gak menanggapi perkataan Mamang yang terakhir, karena sewaktu itu bu Icha sudah memberikan tugas dan harus dikumpulkan saat itu juga.
Sepulang sekolah............... “Tita.. Gimana tadi duduk sama Mamangnya? Wah kamu beruntung ya bisa duduk sama dia” Aku hanya diam saja, dan bersikap seakan masih marah dengan Vanya. “Tit, kok diem aja sih? Jawab dong. Masih marah sama aku ya? Jangan marah dong” “Hhhhh habis tadi pagi kamu nyebelin banget sih” “Iya maaf, kan aku udah minta maaf” “Iyaiya aku maafin” “YESSSSSSS!” teriak Vanya. “Udah gak usah kesenengan” candaku. “Eh btw, gimana tadi duduk sama Mamangnya? Pasti asik kan?” “Asik apanya? Orangnya nyebelin gitu kok, asik dari Hongkong apa ya” “Ih sewot amat sih, ati-ati loh kemakan omongan, ntar kamu jadi naksir beneran lagi” “Ih, amit-amit”
Lagi-lagi sore itu aku menanti suara sang Bisma Karisma di siaran radio biasanya. “HELLO SMASHBLAST SEMUA!........” Loh? Itu kan bukan suara Bisma? Dimana Bisma? “SMASHBLAST maaf sekali, kami segenap kru radio mau memberi informasi, bahwa penyiar andalan kita semua BISMA KARISMA sudah tidak akan menemani kita lagi. Kenapa? Kami juga tidak tau pasti, karena Bisma tiba-tiba mengundurkan diri dari Radio kami. Jadi para SMASHBLAST, maafkan kami segenap kru...... Blabla..” apa? Bisma gak jadi penyiar radio lagi? Kenapa? Yaaaah, gak bisa denger suaranya lagi dong. Bakalan kangen banget deh pasti aku dan para fans-fans lainnya.
“Apa? Bisma gak jadi penyiar radio itu lagi?” “Iya Nya, wah sedih banget nih aku” “Santai Tit, masih ada Mamang yang mirip dengan Bisma” “Ih apaan sih Nya? Dibilangin aku kan gak suka dia” “eh Tit, tapi kalo aku perhatiin Mamang itu mirip sama ciri-ciri Bisma yang suka kamu ceritain ke aku loh” “Aku juga sempet mikir kayak gitu Nya, tapi......” “Nah! Kamu sama Mamang aja!” “VANYA!! MAU MEMBUAT AKU MARAH LAGI?” “Ampun Tit, ampuuuun” “Huh”
Hari ini aku sudah duduk kembali dengan Vanya. Betapa bahagianya aku bisa duduk dengan Vanya lagi dan gak duduk sama si Mamang itu lagi. Saat pelajaran berlangsung....... “Eh Tit, kayaknya si Mamang ngeliatin kamu terus tuh dari tadi” “Ha? Masa sih gak mungkin, ngeliatin kamu kali dia” “Hih beneran deh, coba tuh liat. Sampe gak kedip” dan tanpa disangka, si Mamang memang sedang memperhatikanku. Saat aku melihat dia balik, dia memberiku senyuman kecil tetapi dengan acuh aku membuang mukaku.
Dalam sekejap, bisa-bisanya si anak baru Mamang itu sudah menjadi trending topics di seluruh sekolahku. Banyak banget cewek yang ngefans sama dia, ih kalo aku sih sorry aja. Apa sih bagusnya cowok kayak dia? Nyebelin kayak gitu bisa-bisanya dibilang keren, cakep dan lain-lain. Gak habis pikir deh aku.
Siang itu matahari tepat ditengah langit, udara sangat panas. “Hmmmm kenapa harus pulang jalan kaki saat panas-panas gini sih?” gerutuku. Saat sudah setengah perjalanan, tiba-tiba kepalaku terasa sangat pusing, sangat cenat-cenut. Dalam beberapa detik, aku sudah tidak bisa berjalan dan tidak bisa melihat apa-apa lagi alias pingsan.
“Hhhhhh....pusing” “Aku dimana?” kataku lemah karena baru saja sadar dari pingsan. “Kamu dirumah Tit” “Vanya? Aku tadi pingsan ya? Kamu yang menolongku?” “Bukan Tita, yang menolongmu tadi si Mamang” “Mamang? Dia yang nolongin aku? Mana mungkin?” “Ya mungkin bangetlah, kan dia temanmu juga. Tadi pas dia pulang, dia ngeliat kamu pingsan dijalan, trus dia tadi telpon aku kasih tau kalo kamu pingsan. Yaudah aku kasih alamat rumahmu, biar dia bisa anter kamu pulang. Trus aku nyusul kesini deh” “Oh gitu.... Trus dimana orangnya sekarang?” “Dia udah pulang soalnya takut kamu malah marah pas tau kalo dia yang nolongin kamu, daripada memperparah suasana dia mutusin untuk pulang saja” “Dasar orang aneh, mana mungkin orang yang udah nolongin aku malah aku marahin?” “Katanya kamu galak gitu, haha” “Hhhhh dasar dia tuh!”
Selama beberapa hari aku absen sekolah karena badanku masih terasa gak enak, karena penyakitku menambah menjadi demam dan flu. Selama seminggu aku absen sekolah. Eh jadi kepikiran belum bilang makasih ke Mamang. Besok deh kalo masuk, aku langsung aja ucapin makasih ke dia.
Keesokannya saat disekolah..... “eh Nya, liat Mamang?” “Ciyee, nyariin nih ye haha” goda Vanya. “Vanya aku serius, aku kan belum bilang makasih ke dia” “Hmmm Tit, selama satu minggu ini Mamang gak berangkat ke sekolah sama kayak kamu” “Ha? Kenapa? Dia sakit?” “Aku juga gak tau bahkan gak ada yang tau dia gak masuk sekolah kenapa” Aneh.... Aneh banget.. Kenapa tiba-tiba dia menghilang begitu saja? Kenapa Mamang menghilang disaat aku mau tau banyak dan mau berteman dengan dia?
Siangnya, aku bertekat untuk mencari rumahnya. Aku bertanya kepada Petugas Tata Usaha sekolah dan menanyakan alamatnya. Setelah mendapatkan alamatnya, aku langsung menuju kesana. Setelah sampai di daerah Kemang, aku mencari yang mana rumahnya. “Nah, ini dia. Sama persis sesuai alamatnya” kataku meyakinkan. “Permisi” aku berteriak. Tiba-tiba seorang satpam membukakan pintu gerbang rumah yang sangat besar dan luas itu, bisa dilihat kalo si Mamang itu adalah orang yang berkecukupan. “Pak.. Apa benar ini rumah Mamang?” “Maaf Mbak, dirumah ini tidak ada yang namanya Mamang” jawab satpam itu. “Masa sih Pak? Itu loh dia sekolah di SMA Taruna, tingginya sekitar 165 cm dan berbehel. Namanya Mamang, ada gak?” “Kalo ciri-ciri yang tadi mbak bilang ada mbak, tapi namanya bukan Mamang. Namanya itu Bisma” “Apa? Bisma?” “Iya mbak, Bisma Karisma mantan penyiar radio itu” APA? ITU RUMAH BISMA KARISMA? GAK SALAH? “Ha? Apa Pak? Gak salah ini rumah Bisma Karisma?” “Benar mbak. Tapi Bismanya sedang tidak dirumah, sudah satu minggu ini dia tidak pulang-pulang kerumah. Banyak yang mengira dia melarikan diri dari polisi karena dia adalah pembandar narkoba” “APA PAK? BISMA KARISMA PEMBANDAR NARKOBA?” “Iya mbak, makanya dia berhenti menjadi penyiar radio karena hal itu” “Yasudah pak, makasih ya” dengan perasaan yang masih sangat shock aku pulang menuju rumah. Saat sampai rumah, aku membuka pintu dengan langkah yang berat. Saat melewati ruang tamu, “Hei” ada seorang cowok menyapaku. “Kamu sudah tau semuanya tentang aku kan? Masih mau berteman dengan Bisma Karisma sang mantan penyiar radio terkenal yang ternyata pembandar narkoba ini?” aku masih tidak menyangka. Seorang Mamang yang sebenarnya adalah idolaku Bisma Karisma yang ternyata menjadi buronan para polisi akhir-akhir ini. “Kenapa tidak menjawab?” “Aku gak tau harus menjawab apa” kataku lirih. “Kenapa Bisma? Kenapa kamu melakukan semua ini? Kamu tau para fansmu pasti akan sangat kecewa saat tau kalau kamu sedang menjadi buronan polisi karena menjadi pembandar narkoba! Apa kamu gak memikirkan semuanya?” “Aku juga gak tau kenapa aku bisa melakukan semua ini. Satu bulan yang lalu, orang tuaku bercerai. Aku sangat stress sampai aku memutuskan untuk berhenti menjadi penyiar radio dan pada saat itu juga aku menggunakan dan menjadi pembandar narkoba. Dan juga, aku memutuskan untuk bersekolah di sekolahmu dengan menyamar sebagai Mamang agar aku tidak dikenal sebagai Bisma Karisma, sang penyiar radio itu” Bisma menjelaskan semuanya. “Kamu tau Bisma? Aku kecewa banget sama kamu! Selama ini aku sangat ngidolain kamu dan ternyata kamu malah melakukan hal yang tak sepantasnya dilakukan! Dan Mamang, makasih karena waktu itu udah mau nolongin aku, saat itu aku berfikir mau mencoba temenan sama kamu, tapi aku tarik lagi pikiranku itu. Karena ternyata Mamang bukan orang yang baik” kataku dengan nada marah. “Tita... please, jangan marah sama aku. Please hanya kamu satu-satunya orang yang bisa bantu aku. Tolooong Tit, sekali ini saja” “Aku? Kenapa aku? Kenapa gak minta tolong sama temanmu yang lain saja?” “Gak bisa, aku cuma butuh kamu. Aku pengen kamu bantu aku agar aku gak kecanduan narkoba lagi, aku ingin merubah hidupku lagi Tita. Aku mau menjadi Bisma Karisma yang dulu. Bisma yang baik. Bantu aku Tita, tujuanku baik kok. Aku mau ngelakuin semua ini buat......... ka..kamu” kata-kata Bisma barusan sangat mengagetkanku. Apa? Buat aku? “Kamu gak salah ngomong kan? Kenapa kamu mau merubah hidupmu buat aku?” “Hmmm... aku mau memberi tau semuanya kalo kamu mau membantuku dan saat aku sudah tidak bergantung sama narkoba lagi” “Yah.. lama sekali dong?” “Iyaaa harus sabar dong. Jadi? Mau kan bantu aku?” “Hmmm.. Gimana ya? Okelah. Tapi.. Kamu harus balik kerumahmu malam ini, pasti orang dirumah udah pada nungguin kamu Bis” “Pulang? Siapa yang nungguin? Pasti gak ada. Mama papa aku udah cerai, aku ikut mamaku. Dia sering banget pulang malem dan gak pernah urusin aku lagi semenjak cerai sama papa” “Bismaaaa.... walaupun kayak gitu, mamamu itu sayang banget sama kamu. Gak ada seorang ibu yang gak sayang sama anaknya. Yakin deh sama aku” “Oke bos! Aku pulang kerumah malam ini” aku tersenyum menanggapi perkataan Bisma itu. “Nah gitu dong, kalo senyum kan keliatan cantik” rayu Bisma. Aku hanya tersipu malu mendengar kata-kata yang barusan dia ucapkan kepadaku. “Yaudah ya aku pulang dulu. Bye” pamit Bisma.
Selama sekitar 2 minggu, aku membantu Bisma agar tidak kecanduan narkoba lagi. Selama itu juga, aku menemaninya ke tempat rehabilitasi dan mencoba segala macam hal agar hasilnya bisa maksimal. Selama itu juga, kami menjadi sering bersama. Kami sering menghabiskan waktu berdua. Tidak menyangka, aku bisa bersama Bisma Karisma sang mantan penyiar radio keren itu dan sekaligus pembandar narkoba itu.
Ternyata hasil yang kita dapatkan selama ini tidak sia-sia, semuanya membuahkan hasil yang sempurna! Bisma sudah tidak menjadi pecandu dan pembandar narkoba lagi. Dia sudah menjadi Bisma Karisma yang baru. Sudah tidak ada lagi kata pembandar narkoba pada dirinya. Dia sudah membuktikan kepada semua orang bahwa ia bisa melepaskan narkoba yang sudah melekat pada dirinya. Mama Bisma pun sudah berubah, ia sudah menyayangi dan memperhatikan Bisma kembali. Bisma senang dengan kehidupan barunya ini, ia tidak menyangka kalau dia bisa sembuh dan mamanya bisa kembali seperti dulu lagi.
“Makasih ya Tita atas semua bantuanmu. Aku beruntung punya teman sebaik dan secantik kamu” “Iya sama-sama, sesama teman harus saling membantu dong haha” kataku sambil sedikit tertawa. “Aku seneng deh Bis, bisa lihat kamu ketawa kayak dulu lagi” lanjutku. “Ini semua juga berkat kamu kok” katanya sambil menatapku begitu dalam, sehingga membuatku salah tingkah dan cemas sendiri. “Kok ngeliatinnya gitu amat sih?” tanyaku. Bisma masih menatapku dan tidak menjawab pertanyaanku. Aku masih malu dan salah tingkah karena tatapan Bisma yang begitu dalam kepadaku. Selama beberapa menit suasana masih sama, tetapi tiba-tiba.... “Tita.. Aku sayang sama kamu” “Ha? Apa Bis?” “Aku sayang Tit sama kamu, sayang sayang banget” aku masih terdiam mendengar perkataan Bisma, aku masih gak menyangka Bisma mengatakan itu kepadaku. “Kenapa diam? Kamu gak sayang ya sama aku?” aku masih belum siap menjawab pertanyaannya. Tapi tiba-tiba Bisma memegang tanganku dan berkata “Tita, aku gak maksa kamu buat sayang denganku sama seperti aku menyayangimu. Aku cuma ingin kamu tau, kalo aku sayang banget sama kamu. Cuma itu dan aku gak akan pernah memaksa kamu buat sayang denganku juga” katanya. Selama beberapa detik aku hanya menunduk dan tutup mulut, saat Bisma ingin melepaskan tangannya dari tanganku, aku menahannya. Dia menatapku kembali, tatapan yang sangat tajam tetapi halus dan penuh dengan kasih sayang. “Aku sayang kamu Bisma” kataku pelan. Genggaman Bisma semakin erat dan semakin erat, genggaman yang membuatku merasa sangat nyaman dan aman. “Serius?” aku mengangguk tanda meng-iya-kan pertanyaannya. “Tita, apakah kamu mau menjadi pacarku?” katanya tiba-tiba. Apa? Bisma menembakku? Benar-benar seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Tanpa pikir panjang, aku mengangguk lagi. Terlihat perasaan yang sangat senang dari raut muka Bisma. Tiba-tiba, ia mengangkat tangannya dan tanganku lalu mencium tanganku sambil berkata “I love you, Tita...” aku pun menjawabnya “I love you too, Bisma..” mulai saat itu aku berpacaran dengan Bisma Karisma, sang mantan penyiar radio dan mantan pembandar narkoba yang terkenal itu.

THE THIRD STORY

Hari-Hari Terakhir Bersama Sang Idola
By: Anastasia Tita Pratiwi
@titapratiwi

Di malam yang sepi, aku hanya berdiam di kamar sambil mendengarkan lagu SM*SH – I Heart You sambil melihat-lihat foto-foto personil SM*SH, terlebih salah satu personilnya yaitu Dicky Muhammad Prasetya. Malam itu aku hanya bisa berpikir, kapan aku bisa ketemu dengan Dicky, Bisma, Morgan, Rangga, Rafael, Ilham ataupun Reza. Aku hanya bisa melihat mereka di media massa saja, seperti TV, majalah atau apapun itu. Karena kotaku di Yogyakarta, jauh dari tempat biasa mereka bekerja. Setiap malam aku hanya bisa berandai-andai untuk bertemu dengan mereka, karena mungkin itu semua hanya mimpi.
Belum lagi, aku ingat dengan kejadian dirumah sakit tadi siang, bahwa aku divonis penyakit yang sangat parah. Penyakit itu hanya bisa disembuhkan jika ada keajaiban dan keburuntungan untukku. Walaupun masih ada satu jalan, yaitu jika aku mau mengikuti rutin terapi dari dokter. Tiba-tiba mama masuk ke kamarku........
“Tita... kamu mau ya menjalani terapi dari dokter agar kamu bisa cepat sembuh?”
“Aku gak semangat ma, kalo emang udah waktunya, aku bakal mati kok.”
“Husssh, kamu ini ngomong apa? Kalo bagitu, apa yang bisa membuat kamu semangat untuk mengikuti terapi ini?”
“Yang buat aku semangat? Hmm... aku bakal semangat kalo disetiap terapi aku ditemenin sama kak Dicky, personil Boyband SM*SH itu mah!”
“Ha? Gimana caranya nak? Itu susah..” jawab mama.
“Ya mama mau aku ikut terapi itu gak?”
“Yasudah, mama usahakan ya sayang” sambil mengelus rambutku.
Selama beberapa minggu, mama, keluarga dan sahabat-sahabatku berjuan keras untuk menuruti permintaanku itu. Hingga akhirnya, pada waktu itu badanku terasa sangat lemas, pusing, cenat-cenut gak karuan. Karena keadaanku yang sudah parah, aku dilarikan ke rumah sakit. Padahal sebelum aku pingsan itu, keluarga dan sahabat-sahabatku sudah berhasil membawa ke-7 personil SM*SH kerumah, tapi akunya keduluan gak kuat haha-_- selama beberapa jam aku koma. Dan pada waktu aku membuka mata kembali.......... WAW! TERNYATA! KE-7 PERSONIL SM*SH SUDAH ADA DI DEPAN MATAKU!
“Surprise!!!” sahabatku Vanya sedikit berteriak.
“Ini? Apa?” kataku dengan nada yang sangat lemah.
“Semua keluarga dan sahabatmu udah berusaha mencari kita Tita, dengan perjuangan yang sangat besar. Makanya, karena kami simpati terhadap kamu, kami mau menemani kamu selama terapi. Tapi kamu harus ikut terapinya ya.” Tiba-tiba Dicky SM*SH berbicara.
Aku hanya bisa diam dan tidak bisa berkata apa-apa saat itu.
“Loh? Kok diam saja sih? Mau tidak titaaaa?” Bisma pun ikut berkata.
“Hhhh...Ten..tentu saja aku mau kak. Ta...tapi....”
“Tapi apa? Ayolah Tita, kita semua sudah datang kesini khusus buat kamu. Apa kamu mau menyia-nyiakan semuanya?”
“Kakak-kakak dan Vanya, umurku emang udah ditakdirin gak lama lagi. Buat apa itu terapi? Udahlah, tinggal nunggu waktu aja kok” kataku putus asa dan gak ngerasa kalo sudah ada air mata keluar dari mataku.
“Hey Tita! Kamu ini ngomong apa? Kamu harus ikut terapi itu! Ini perintah seorang Dicky! Kamu harus mau ya sayang?” kata Dicky sambil memelukku dan menghapus air mataku.
“Untuk Dicky, aku mau deh” aku menjawabnya dengan terpaksa.
Sudah hampir 2 minggu aku menjalani terapi agar penyakitku bisa sembuh itu, dan menurutku semuanyaa tidak ada kemajuan. Aku hanya bisa tiduran di kamar rumah sakit saja dan merasa sangaaaaaaat bosan!!! Hingga suatu malam............
“Dicky.. aku bosan dikamar rumah sakit ini terus. Tolong ya, ajak aku jalan-jalan keluar. Please, aku ngerasa penat banget disini Dicky.”
“Iya Tita, tapi jangan lama-lama ya. Ini sudah malam”
“Iya... Kan ada kamu yang pasti ngejagain aku kan?”
“Iyadong, apasih yang gak Dicky lakuin untuk Tita?”
“Ih... ngerayu nih? Udah ah, ayook!”
Malam itu, malam indah sekali bagiku. Aku jalan-jalan mengelilingi taman rumah sakit bersama idolaku DICKY SM*SH. Malam itu seperti mimpi indah bagiku, andaikan bisa aku mau waktu berhenti disitu saja agar aku bisa bersama Dicky selamanya. Tiba-tiba di keheningan malam......
“Dicky, aku boleh ngomong sesuatu gak?”
“Boleh dong. Apa?”
“Kalo besok aku udah gak ada didunia ini lagi, kamu bakal ngelupain aku gak?”
“Husshhhh... kamu ngomong apa sih Tita?”
“Aku serius, tolong jawab pertanyaanku Dicky.”
“Aku gak bakal ngelupain kamu Tita sayang. Sampe kapanpun!”
“Janji?”
“Yap! Janji!”
“Kalo gitu, tolong kasih 10 menit berharga buat aku dong Dicky. 10 menit yang gak akan kita lupain untuk selamanya.”
“Oke!”
Seperti yang dikatakan Dicky, dia benar-benar memberiku 10 menit yang paling indah dalam hidupku! Benar-benar tak akan dilupakan! Dicky memang cowok sempurna yang pastinya idaman semua cewek. Aku sangat beruntung bisa dekat sekali dengan dia seperti ini. Setelah memberi 10 menit berharga untukku, akhirnya aku kembali ke kamar dan beristirahat kembali. Keesokkannya...
“Halooo Tita!!” sapa Dicky, Morgan, Bisma, Rangga, Rafael, Reza dan Ilham serentak.
“Halo kakak-kakakku!”
“Gimana keadaanmu?” kata Bisma.
“Baik-baik saja kok.”
“Hey! Muka pucat begitu dibilang baik?” sela Morgan.
“Setiap hari mukaku pucat kali Mor, aku kan orang penayakitan haha” jawabku dengan nada bercanda.
“Yaudah, kamu gapapa kan Tita?” tanya Dicky penuh simpati kepadaku.
“Iya Dicky. Tenang aja.”
“Aku boleh gak minta satu permintaan buat kalian?”
“Iya pastinya boleh. Apa itu?” jawab Rafael.
“Nyanyiin lagu “GADISKU” buat aku dong.”
“SIAP!” jawab mereka barengan.
Merekapun menyanyikan lagu GADISKU dengan sangat merdu dan indah. Sehingga aku tertidur dengan dengan pulas. Dua hari kemudian, aku merasa badanku sudah sangat tidak enak. Rasanya aku udah gak kuat menjalani semuanya. Seperti orang yang sudah mau mati saja. Malam itu, hanya ada Dicky dan aku saja di kamar rumah sakit.
“Tita..... Malam ini mukamu kelihatan pucat sekali? Gak seperti biasanya?”
“Ah? Masa sih? Enggak ah, biasa ajadeh jangan lebay haha”
“Ini bukan waktunya bercanda Tita! Serius!”
“Yah.. kok malah dimarain sih? Sedih nih aku Dicky”
“Maaf Tita, gak maksud aku kan panik, kamu malah bercanda gitu. Bentar aku panggilin dokter dulu ya.”
“eh gak usah!!” kataku sambil menahan Dicky yang hendak keluar.
“Kamu temenin aku aja disini ya, yang aku butuh sekarang kamu, bukan dokter” kataku lagi.
“Iya sayaaang”
“Dicky?” aku memanggilnya dengan suara sangat lirih dan lemah.
“Iya sayang?”
“Aku mau dong kamu nyanyiin lagu Endah n Rhesa – When You Love Someone”
“Oke!”
Dicky pun menyanyikan lagu itu dengan penuh pengahayatan, satu bait demi bait sudah iya nyanyikan untukku. Ini penggalannya..........
I love you but it’s not so easy to make you here with me
I wanna touch and hold you forever
But you’re still in my dream
And I can’t stand to wait ’till nite is coming to my life
But I still have a time to break a silence

When you love someone
Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love
Don’t ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true…
“Udah aku selesaiin lagunya Tita” kata Dicky.
Tidak ada suara yang menjawabnya.
“TITA! TITA! TITA!” Dicky berteriak.
Dia mengecek jantungku dan ternyata......... sudah tidak terdengar lagi detak jantungku disana. Dia sangat sedih karena aku sudah meninggalkan dia, sebelum dia sempat mengatakan semuanya kepadaku.
“Tita. Kenapa kamu pergi secepat ini? Aku belum mengungkapkan semuanya kepadamu. Aku sangat menyanyangimu, sejak pertama kita bertemu aku sudah mempunyai rasa kepadamu. Kenapa Tuhan? Kenapa Tita?”
Ya, ternyata Dicky selama ini sangat menyayangi dan mencintai Tita. Tetapi semuanya sudah terlambat, Tuhan berkehendak lain. Dicky harus menerima semuanya dengan ikhlas dan lapang dada. Malam itu, ia meninggal di dekapan sang idola Dicky Muhammad Prasetya. Dicky pun mendekpa Tita dengan penuh kehangatan dan kasih sayang untuk terakhir kalinya.

THE SECOND STORY

DICKY MUHAMMAD PRASETYA, I LOVE YOU SO!
By: Anastasia Tita Pratiwi
@titapratiwi

Pada waktu libur natal sekolah kemarin, aku merasa sangat bosan hanya berada di Jogja saja. Akhirnya, aku berinisiatif untuk mengajak keluarga dan sahabatku Vanya untuk pergi ke Jakarta.
“Vanya! Besok ke Jakarta yok sama mama papa aku?”
“Ha? Ngapain Ta?”
“Ya liburan aja, aku bosen nih di Jogja terus. Lagian siapa tau kita bisa ketemu sama si ganteng idola kita itu, SM*SH! :P”
Tanpa berbasa-basi, si Vanya langsung menerima ajakanku. Keesokkan harinya, aku, Vanya dan keluargaku berangkat menuju Jakarta naik pesawat.
“Nya, denger-denger besok SM*SH mau tampil di Mangga Dua tuh. Kita kesana yuk! Yayaya?”
“YAKIN TA? OKE! AKU PASTI MAU!”
Kita berdua emang paling ‘gila’ kalo udah denger apa aja yang berhubungan dengan boyband SM*SH! Kita cintaaaaaa banget sama mereka! Sampe-sampe wallpaper hp dan seluruh file di hp penuh dengan SM*SH! Kalo si Vanya sih tergila-gila banget sama MORGAN, kalo akunya sih sama kak DICKY DOOONG! Hhaha.
Akhirnya di Bandara Soekarno-Hatta...........
“Eh Nya! Liat deh, itu kak Dicky bukan sih?” sambil menunjuk seorang laki-laki ganteng yang berbehel, memakai kacamata dan berpakaian modis.
“Ha? Mana Ta?” si Vanya sibuk mencari.
“Itu! Arah jam 9!” aku bantu dengan menunjuk.
“Iya Ta! Itu kak Dicky! Eh gak sendirian! Sama anak-anak SM*SH lainnya!”
“Ha? Iya! Ayo nyaaa samperiiiiiiiiiiiiiin!”
Akhirnya kita cepat-cepat lari, sampai lupa ijin ke kedua orangtuaku. Akhirnya aku meng-sms
mereka dan meminta ijin untuk bertemu dengan anak-anak SM*SH. Mumpung belum ada fans yang menghampiri mereka, aku dan Vanya buru-buru mengejar mereka karena mereka terlihat sedang cepat-cepat jalan (mungkin keburu pada tau ya kalo ada SM*SH disitu, kan lumayan tuh mereka gak repot-repot meladeni para fans-fansnya haha) setelah dekat dengan mereka......
“Kak Morgaaaaaaaaaan!!” Vanya berteriak supaya kak Morgan mendengarnya.
Morgan pun menengok kebelakang karena merasa ada seseorang yang memanggil namanya. Tanpa pikir panjang, Vanya langsung menghampiri kak Morgan dan menyuruhku agar mau membantu dia untuk berfoto dengan kak Morgan. Aku pun masih sangat terpesona melihat kegantengan kak Dicky! Oh ternyata, di TV ganteng. ASLINYA GANTENGGGGGG BANGEEEEETTTTT! (lebay-_-) yaudahdeh setelah sih Vanya foto dengan kak Morgan, aku langsung menyuruh Vanya untuk memoto aku dengan kak Dicky. Aku pun menghampiri kak Dicky.
“Kak Dicky......”
“Hei, halo halo! Mau minta foto dan tanda tangan? Hehe”
“Iyadong kak pastinya, masa aku mau minta kakak jadi pacarku? Haha :p”
“Ha? Apa?”
“Hmmm.... nggak papa kok kak hehe”
“Yaudah, ayo foto”
Setelah aku berfoto dengan kak Dicky, aku pun meminta tandatangannya. Setelah iya memberikan kertas tandatangan itu kepadaku, dia berkata....
“Sudah kan dek?”
“Hmm kalo belum gimana kak? Aku punya permintaan nih, kakak kira-kira mau ngabulin gak ya?”
“Apa permintaanya sayang?”
“Ha? Apa kak? Sayang?”
“Iyadong, kan Diki harus sayang sama fans-fans Diki.”
“Aaaaa kak Diki baik banget sih, unyuuuuu:3” sambil nyubit pipi Dicky-_-
“Hihi kamu juga unyu kok adeeeeek!” kak Dicky pun balik cubit pipi aku.
“Kak, follow back account twitterku dong sama minta pin BB kakak. Please banget kak, uhuhuhuhuhuu” akupun meminta sambil memasang muka melas dan cemberut.
“Oh Cuma begitu, gampang deh itu. Sini aku aja yang add pin bb kamu. Ntar follow backnya menyusul ya adeeek sayang!”
Awawawawaw betapa senangnya aku waktu itu, aku mendapatkan pin BB kak Dicky! Bisa foto sama dia, twitterku di follow back sama dia dan pastinya dia memanggilku dengan kata SAYANG! Sayang mereka harus cepat-cepat pergi karena ada job yang menunggu.
Sesampai dirumah budheku (aku, Vanya dan keluargaku akan menginap dirumah budheku selama di Jakarta). Siang sampe malam hari, kita hanya dirumah saja karena mama dan papaku kecapekan. Hingga malam harinya, saat aku dan Vanya sedang menonton SM*SH di TV, ada yang mengetuk pintu rumah budheku. Karena waktu itu hanya ada aku dan Vanya dirumah, akhirnya aku yang membukakan pintunya. Setelah aku buka pintunya, aku diam terpaku dan tidak bisa bicara satu patah kata pun. Ternyata yang datang adalah ANAK-ANAK SM*SH! Hatiku langsung degdegserrrr melihat sosok Dicky, Morgan, Bisma, Rangga, Ilham, Reza dan Rafel didepanku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menyuruh mereka masuk dan duduk diruang tamu. Saat diruang tamu.....
“Loh? Kalian kan yang tadi di bandara?” Dicky terheran-heran.
“Iya kak, ini kita. Masih ingat? Eh ngomong-ngomong kalian kok bisa dirumah budheku ini?”
“Loh Tante Niken budhemu? Dia tante kami, haha.” Kata kak Morgan.
“Wah gak nyangka ya” kata Bisma.
“Wah keberuntungan banget buat aku sama Vanya! Aku seneng banget bisa deket banget sama kalian gini kak, gak nyangka. Smua ini kayak mimpi!”
Singkat cerita, kami mengobrol-obrol sampai lupa waktu, akhirnya setelah merasa lelah kakak-kakak SM*SH meninggalkan rumah budheku dan akan pergi ke penginapan mereka di Jakarta.
3 hari berlalu, kak Dicky enggak nge-bbm aku. Sampe pada Jumat malam, akhirnya kak Dicky nge-bbm aku. Dia mengajakku untuk jalan-jalan malam mingguan berdua. Oh betapa senangnya hatiku pada saat itu! Hatiku langsung cenat-cenut gak karuan, haha. Keesokkan malamnya, kak Dicky pun menjemputku dengan sebuah mobil.
“udah siap malam mingguan sama Dicky SM*SH?” goda kak Dicky.
“Uuuuu kayak mimpi aja nih, aku gak mimpi kan kak?”
“Enggak dong adeeeeek. Eh kamu cantik sekali malam ini” puji dia.
“Ah kak Dicky nggombal nih, bisa aja. Malu deh aku. Hihi” aku menjawab sambil malu-malu gitu, haha gimana gak malu dibilang cantik sama idola sendiri?
“Gak usah malu dek saaaay, ayo kita turun. Udah sampe nih”
“kak? Ini dimana?” aku heran.
“udah ayo kamu ikut aja!”
Setelah berjalan, akhirnya aku dan kak Dicky tiba ditempat tujuan. Restoran di pinggri ancol yang so sweet banget. Lilin dimana-mana. Ternyata kak Dicky udah nyiapin semuanya buat aku.
“Kak? Ini apa?” tanyaku.
“Sayang, ini semua buat kamu” katanya sambil menunjukkan senyumnya yang bisa bikin aku melting itu.
“Sayang? Apa maksud semua ini kak?”
“semuanya sudah jelas dek, aku sayang sama kamu tita. Maukah kamu menjadi pacarku?”
“KAK DICKY? INI SEMUA? SERIUS?” aku masih gak percaya.
“Iya Tita sayaaang, apa semuanya kurang jelas?”
“Aaaa kak dicky, aku gak nyangka. Aku mau kak jadi pacar kakak ”
Setelah aku berkata itu, kak Dicky langsung memelukku erat dan tak akan melepaskannya lagi!! :’)

THE FIRST STORY

“AKU TANPA DIA, DIA TANPA AKU”
By: Anastasia Tita Pratiwi
@titapratiwi

AA YKPN sudah penuh sesak oleh pelajar SMA Yogyakarta yang ingin menyaksikan pertandingan basket antar sekolah tingkat SMA sekota Yogyakarta ini. Hari ini aku juga tak kalah ingin melihat pertandingan tersebut bersama Sasha. Dengan memakai kaos polos berwarna putih dan didouble dengan cardigan ungu, celana jeans panjang, sepatu flat hitam, tas hitam yang kubawa ditangan kananku, kacamata merah yang menghiasi sekitar mataku dan rambut panjang yang aku biarkan tergerai bebas, aku memasuki kawasan AA YKPN yang sudah penuh sesak dengan pelajar SMA Yogyakarta itu.
“Aduh.. Mana sih ini si Sasha? Katanya mau sampai sini jam 9? Ini udah lewat jam 9, belum nongol-nongol juga orangnya” aku menggerutu sambil sibuk mencari sosok sahabatku Sasha dan sibuk melihat jam berwarna ungu yang ada di tangan kiriku.
“Oh, aku telpon saja deh” aku melanjutkan perkataanku.
Saat aku mau mengambil handphone dari tasku, tiba-tiba ada seseorang yang menabrakku dari belakang. Brukkkkkk.....
“Aduuuuuuh......” tanpa sengaja aku sedikit berteriak, sehingga tanpa sadar juga orang-orang yang ada disekitar memperhatikanku.
“Eh.. Maaf, aku gak sengaja”
Tampak seorang cowok yang tingginya sekitar 170 cm, gigi yang berbehel, memakai kacamata min hitamnya, ia memakai seragam sekolah dan menggunakan jaket merah.
“Oh.. Iya, nggak papa kok, santai aja” jawabku sambil sedikit memberi senyuman.
Setelah aku memberikan maaf kepadanya, ia langsung pergi begitu saja dan hanya membalas perkataanku dengan senyuman.
“Hei, tadi itu siapa?” seorang cewek dengan dandanan yang modis menepuk pundakku.
“Hhhhh Sasha.... Akhirnya kamu datang juga, dari mana sih? Lama banget ih”
“Maaf ya hunny bunny sweetieku, sahabatku yang paling baik”
“Ahhhhh, gak usah mulai deh ngerayunya. Yaudah ah, masuk yuuuuk..”
“Eittsssss... tunggu dulu”
“Apa lagi sih?”
“Tadi itu siapa sih?”
“Tadi? Yang mana?”
“Yang tadi, cowok. Pake jaket merah. Siapa dia? Ganteng amat”
Oh si Sasha menanyakan dia. Hmmm ganteng? Kata Sasha dia ganteng? Masa sih? Tapi kalo dipikir-pikir iya juga ya. Eh kok malah jadi mikirin dia ganteng apa enggak?
“Eh.. ditanyain malah diem aja, ayo jawab dong. Gebetan baru nih yeeee” Sasha mencibirku.
“Gebetan apaan? Kenal aja enggak. Dia itu tanpa sengaja menabrakku tadi, dan cuma sekedar maaf-maafan, gitu doang” kataku menjelaskan apa yang telah terjadi sekitar 5 menit yang lalu.
Sasha hanya ber-oh-oh ria.
Setelah itu kami pun masuk ke dalam area lapangan basket indoor AA YKPN. Ampun banget deh, ini area pertandingannya penuh banget. Kayaknya sih tempat duduk udah gak ada yang kesisa satupun, suasana juga udah ramai banget. Suara sorak-sorai anak-anak SMA yang mendukung sekolah masing-masing itu sampe bikin kepalaku pusing, udah kayak mau tawur aja sih?
“Sha, pulang aja yok? Rame gak ketulungan ini mah”
“Aduh Tasya, gimana sih? Kita udah sampe sini, masa mau pulang begitu aja? Sayang banget dong. Sabar deh, ntar kita pasti dapet tempat duduk kok”
“Kamu sih tadi pake acara telat segala datengnya, jadi tempat ini udah ramai banget kan?”
“Ya maaf.. Kan tadi aku udah minta maaf”
Aku gak menanggapi perkataan Sasha yang terakhir dan sepertinya Sasha pun begitu. Sepertinya ia sedang sibuk mencari seseorang di kerumunan orang-orang yang ada di lapangan basket indoor AA YKPN tersebut. Whatever deh ya, aku udah males. Karena tiba-tiba aku merasa haus, akhirnya aku memutuskan untuk keluar mencari minuman sebentar. Tanpa seiijin Sasha, aku langsung meninggalkannya dan keluar dari ruangan tersebut. Didalam ruangan ramai, tak kalah juga dengan diluar. Tapi yang diluar ini ramai karena ada sparing nih. Sparing dalam hal yang negatif ya, ya sejenis tawur gitulah.
“Apaan sih ini? 2011 masih aja tawur, gak diajarin tata krama apa ya? Ckck” aku menggerutu dan jengkel sendiri, karena gara-gara ada tawur itu aku jadi gak bisa membeli minum. Soalnya yang jual minum ada di sebrang, berarti aku harus melewati anak-anak yang sedang asyik bertawuran itu. Gimana punya rasa berani untuk menyebrang? Bisa-bisa waktu nyampe di sebrang, muka aku udah babak belur karena kena pukulan salah satu dari siswa yang sedang tawur itu. Hhhhhhhhh..........
Selama sekitar setengah jam aku hanya duduk diluar sendirian saja sambil mendengarkan musik dari I-podku. Mau balik ke dalam? Udah gak ada niat, ramainya bukan main, jadi udah gak ada semangat untuk melihat pertandingan tadi. Sasha? Bagaimana dengan Sasha? Hmmm, pasti dia sedang asyik melihat cowok-cowok keren yang sedang bermain basket didalam. Cowok tadi? Cowok yang menabrakku? Kenapa aku gak melihatnya lagi? Woyyyyy, mikir apa aku? Kenapa tiba-tiba mikirin dia?
“Hhhhhhhhhhhhhhhhh” aku menghembuskan nafasku sebagai tanda bosan.
“TITAAAA!!!!!!!!” seorang cewek yang sudah sangat aku kenal suaranya berteriak memanggilku dari jauh, dia menghampiriku. Eh, tidak sendirian. Ada dua orang lagi dibelakangnya, satu cewek dan satu cowok. Ha? Cowok itu? Yang menabrakku tadi. Kok bisa sama Sasha?
“Hhh.. Ini anak ninggalin aku begitu aja. Aku cariin daritadi gak ada, aku telponon gak ngangkat. Maunya apa sih ya ni anak?”
“Hehehe, maaf yaa. Habisnya didalam panas banget, trus tadi aku haus ya udah aku keluar aja tanpa ijin ke kamu, ntar kalo ijin gak dibolehin lagi haha. Tapi gara-gara tadi ada tawur gitu, aku gak jadi beli minum, mau masuk ke dalam lagi maleeeeeees banget, penuh gitu sih”
“Dasarrrrrrrrrrrr! Kamu tuh!” kata Sasha dengan jengkel.
“Maaf ah, kan aku udah minta maaf tadi. Huh”
“Iyaiya Tasya, tenang saja. Masa aku gak mau maafin kamu? Ohiya, aku mau ngenalin dua orang ini nih ke kamu. Ini saudaraku Dila dan itu temennya, Sansan namanya. Kayaknya Sansan yang menabrakmu tadi ya Tas?” Sasha mengenalkan kedua orang itu kepadaku.
“Oh.. Iyaaa Sha bener haha. Salam kenal ya, aku Tasya” aku memperkenalkan diriku sambil berjabat tangan dengan Dila dan Sansan.
“Heyyyy.. Maaf ya udah nabrak kamu tadi, aku gak sengaja deh. Beneran”
“Iyaaaa santai aja kali, kan aku udah maafin kamu dari kamu nabrak aku tadi”
“Hhahahaha iya juga yaa.. Aku lupa kalo udah minta maaf sama kamu”
Ternyata.... orang yang menabrakku tadi namanya Sansan? Bener juga ya kata Sasha, dia ganteng, gak hanya ganteng keren lagi. Belum lagi kalo ketawa dan bicara, suaranya lucu banget hihi.
“Eh Tas.. Aku mau ada urusan sebentar sama Dila. Kamu aku tinggal sebentar nggak papa kan?”
“Kalau gitu, aku aja yang nemenin. Mumpung aku lagi gak sibuk nih” Sansan menawarkan diri.
“Nah yaudah, makasih ya San. Titip Tasya dulu ya, kalau nakal bilang sama aku aja haha” Sasha mencibirku.
“Hih.. Apaan sih Sha? Emang aku anak kecil?”
Sasha hanya ketawa kecil dan pergi bersama Dila meninggalkanku dan Sansan. Sekarang.. Hanya ada aku dan Sansan disitu. Hening, hening sekali suasana saat itu.
“Hei, kok diam saja? Sedih ditinggal Sasha? HAHAHA” Sansan mulai mencairkan suasana dengan mengejekku.
“Apaan sih? Enggak kali, biasa aja. Cuma lagi mikir, kok kayaknya hari ini sial banget ya? Mulai dari nungguin Sasha yang dateng telat, gak dapet tempat duduk didalem, gak bisa beli minum gara-gara ada yang tawuran, ditinggal begitu aja sama Sasha dan ditabrak sama orang tadi pagi” kataku sambil melirik sinis tanda mengejeknya.
“Eitttssss.. Balas dendam nih? Boleh-boleh”
“Hahahahaha, habisnya kamu nyebelin banget sih. Aku malah diejek sedih ditinggal Sasha. Gak penting banget kan? Huh”
“Ya maaf deh, daripada cuma diem-dieman. Aku emang tipe orang yang suka bercanda, maaf ya” Sansan menjelaskan.
“Hmmm.. iya” jawabku lirih.
Selama hampir satu jam aku mengobrol dengan Sansan dan berarti selama satu jam juga Sasha meninggalkanku dan tidak balik-balik. Tapi nggak papa, kali ini Sasha tidak salah memilih orang untuk menemaniku. Orang ini emang asyik banget. Aku suka banget sama tipe orang yang sukanya bercanda. Gak tau kenapa, aku ngerasa nyambung dan nyaman banget kalau lagi ngobrol sama Sansan ini. Dia orangnya bisa bergaul dengan mudah, aku suka banget itu.
Tiba-tiba sewaktu sedang asyik mengobrol dengan Sansan.....
When you love someone, just be brave to say that you want him to be with you....
“Halooo.. Iya Sha? Ha kamu ada acara? Aku pulang sendiri? Yah, gimana sih kamu? Katanya janji mau mengantarku pulang? Acara mendadak? Penting? Yaudah deh.. Iya nggak papa” KLIK. Aku memutuskan hubungan telpon dengan Sasha. Terlihat muka kekecewaan dariku karena aku harus pulang sendiri. Naik apa? Harus naik TJ (red: Trans Jogja), hhh padahal panasnya kayak gini.
“Kenapa?” tanya Sansan yang membuyarkan lamunanku.
“Sasha.. Dia ada acara tiba-tiba, jadi....” belum aku selesai berbicara, Sansan memotong.
“Aku aja yang nganter kamu”
“Ha? Gak usah San. Aku pulang sendiri aja, nggak papa kok. Udah biasa”
“Nggak papa, bareng aku aja. Kebetulan aku bawa motor sendiri”
“Udah gak usah, gak usah repot-repot mau nganterin aku” tolakku.
“Gak usah malu deh. Ayolah nggak papa, mumpung aku lagi baik nih”
Aku masih mikir, lama sekali........
“Ah, kelamaan. Udah ah, ayoooo” Sansan memaksa sambil menarik tanganku. Yasudah, aku tidak bisa menolak ajakannya karena dia sudah sangat memaksa sambil menarik tangan dan badanku. Selama berjalan menuju tempat parkir, tanpa sadar Ihsan masih menggandeng tanganku.
“Eheeem.. Kesempatan menggandeng tanganku nih” aku menyindirnya.
“Eh, maaf gak nyadar hehe. Gak usah kesenengan ya digandeng sama cowok cakep dan cool seperti aku ini”
“Ih sorry. Aku udah pernah digandeng sama Justin Bieber haha” candaku.
“Eh jangan mimpi terlalu tinggi, ntar kalau jatuh sakit hati loh”
“Ciyeee, bahasanya tinggi amat mas”
Sansan hanya tertawa menanggapi perkataanku.
“Ayo naik..” tiba-tiba ia sudah datang dengan motor CBR hitamnya itu. Dengan memakai helm INK hitam, ia meminjamkan helm INK putihnya kepadaku.
“Hei, ini helmnya. Cepat pakai, trus naik”
“Siap bos Sansan!” kataku sambil memberikan posisi hormat kepadanya.
“HAHAHAHAHAHAHAHA” kita tertawa bersama.
Selama perjalanan, masih sempat-sempatnya kita bercanda dan tertawa bersama. Sampai-sampai tidak terasa selama 15 menit perjalanan tiba-tiba sudah sampai di depan rumahku.
“Hei, sudah sampai” katanya.
“Oh.. sudah sampai? Gak nyadar, haha”
“Kamu sih kebanyakkan ketawa dari tadi. Hati-hati ntar dikira ‘miring’ loh sama orang”
“Nah kamu sih yang bikin aku kayak gini haha”
“Yaudah, masuk sana” suruhnya.
“Iyaiya, sabar. Eh Sansan makasih ya, udah bikin aku ketawa dan nganterin aku sampe rumah” kataku serius.
“Idih serius amat. Iya Tasya. Sama-sama, anggep aja ini sebagai permintaan maafku”
“Okedeh bos! Yaudah ya, aku masuk dulu. Bye! Take care ya dijalan, gak usah ngebut-ngebut. Ohya! Sampe ketemu lagi! Jangan kangen aku ya haha” kataku sambil berjalan memasuki rumah. Sepertinya Sansan hanya ketawa saja menanggapi kataku tadi.
“Hmmmmmm..... akhirnya sampai rumah juga” kataku sambil merebahkan badanku di kasur. Hari ini memang sedikit melelahkan, tapi sekaligus menyenangkan. Sansan. Hey! Kenapa tiba-tiba aku memikirkan dia? Tidak..tidak..tidak.. Aku gak boleh memikirkan dia, ingat Tasya. Teman! Aku meyakinkan diriku sendiri.

Selama beberapa hari aku tidak bertemu dan tidak berkomunikasi dengan Sansan, cowok yang baru aku kenal beberapa hari yang lalu tapi sangat aku kenal.
Wiwiwiwiiwiwiwiwiwiwiwiiwiwiwiwi...
Tiba-tiba nada dering tanda ada sms dari hpku berbunyi. Siapa nih malam-malam gini meng-sms aku? Sasha? Hmm maybe..

From: 08564367xxxxx
Hei.. Apa bener ini nomornya Tasya?

To: 08564367xxxxx
Iya bener, ini siapa ya?

From: 08564367xxxxx
Ini dari si cakep, Sansan haha save nomerku ya Tit :D

Sansan sms aku? Kenapa aku seneng banget disms Sansan gini? Gak nyangka dia sms aku. Aku pun menge-save nomor Sansan dengan nama “Sansan Cesar” sesuai dengan namanya.

To: Sansan Cesar
Yoa bos! Udah aku simpen kok :D eh dapet nomorku dari mana? Ada apa nih sms? Udah
mulai kangen sama aku ya? Hayo hayo haha

From: Sansan Cesar
Adadeh. Sansan kan tau segalanya, masa cuma nomormu aja aku gak tau? Nomornya
Selena Gomez pun aku punya wkwk. Kangen? Kangen gak ya? Ntar kalo aku bilang
kangen, kamunya kesenengen lagi huuuuuu :p

To: Sansan Cesar
Eh jangan mimpi terlalu tinggi, ntar kalau jatuh sakit hati loh  tuh kan, kamu kemakan
omonganmu sendiri. Hayoooo hahahahaha

From: Sansan Cesar
Eh coppast kata-kata orang huuu gak kreatif nih ye. Eh btw, besok satnite ada acara gak?

To: Sansan Cesar
Biarin, suka-suka donggggggggggg! Hmm kayaknya gak ada kok, kenapa?

From: Sansan Cesar
Mau ajak kamu nonton. Eittts, tapi jangan ke-GRan dulu ya. Aku punya dua tiket, satunya
gak kepake nih. Temen-temenku pada punya acara masing-masing, daripada dibuang
percuma yaudah aku kasih ke kamu deh. Baik kan aku?

To: Sansan Cesar
Hhhhh iyaiya. Aku mau dan AKU GAK KE-GR-AN! Santai aja haha. Yaudah ya, aku
ngantuk nih mau tidur. Bye! See you tomorrow.

From: Sansan Cesar
Sip. Besok aku jemput kamu jam 6 sore pas! Ontime ya! Bye, see you tomorrow.

Kita mengakhiri kegiatan texting kita. ohGod! Besok satnite, dan aku nonton dengan Sansan. Biasanya dirumah doang dan besok mau nonton? Bahkan sama Sansan? Berarti... Sansan belum punya pacar? Trus kenapa dia mengajakku? Eh tapi tadi dia bilang, itu tiket yang gak kepake. Berarti ada orang yang batal nonton sama dia sebelumnya. Tapi siapa? Apa pacarnya? Aku bertanya-tanya.
Saat hari Sabtu, disekolah....
“Heh! Ngelamun aja! Lagi mbayangin apa sih kamu Tas?” Sasha mengagetkanku.
“Hm.. kamu belum aku kasih tau ya?”
“Kasih tau apasih?”
“Malam ini aku mau nonton sama Sansan hehe” jawabku sambil malu-malu.
“Ciyeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh!!!” Sasha berteriak tepat di telingaku.
“Eh, ngawur aja teriak ditelinga, ntar kalo aku budeg gimana? Huuu”
“Eh Tas....” tiba-tiba nada bicara Sasha berubah menjadi serius.
“Tapi.. setauku Sansan udah punya pacar” Sasha melanjutkan perkataannya.
Apa? Sansan punya pacar? Jadi dugaanku selama ini benar? Tapi kenapa dia mengajakku nonton?
“Kamu tau dari mana?” dalam sekejab, nada bicara dan raut mukaku berubah drastis. Awalnya sangat senang dan tidak sabar menanti malam nanti, tetapi sekarang aku harus merasakan pahit karena Sansan sudah mempunyai pacar.
“Tau dari Dila, saudara aku itulah. Eh kenapa jadi sedih gitu? Hayooo kamu suka ya Tas sama Sansan? Ayoo ngaku sama sahabat sendiri!”
“Apaan sih kamu Sha? Gaklah, ada-ada saja”
“Gak usah bohong, bisa dilihat kok”
“Terserah deh” kataku.
Hari ini aku sama sekali tidak semangat mengikuti pelajaran. Seharusnya sih semangat.. Tapi karena perkataan Sasha yang mengatakan kalau Sansan sudah punya pacar, tak tau kenapa tiba-tiba aku jadi gak semangat. Apa benar kalo aku memang suka dengan Sansan? Entahlah, aku juga masih bingung.
“Hoaaaaam”
“HA? JAM 5? YAAMPUN AKU KETIDURAN! BODOH!”
Apa? Sudah jam 5? 1 jam lagi jam 6 dan Sansan akan menjemputku. Dengan cepat, aku bersiap-siap. Mandi, memakai baju dan berdandan. Malam ini aku memutuskan untuk memakai celana jeans hitam panjang, blus bermotif bunga berwarna hitam-putih, tas hitam, sepatu flat hitam dan seperti biasa kacamata merah. Masih sama seperti sebelumnya, aku sudah tidak mempunyai semangat untuk bermalam-minggu bersama Sansan. Tetapi karena gak enak hati untuk membatalkannya, aku memutuskan untuk tetap nonton bersama Sansan malam ini.
Tok..tok..tok..
Sudah ada suara ketukan pintu didepan. Hmmm, itu pasti Sansan, batinku. Aku langsung menuju depan dan membuka pintu.
“Hei. Sudah siap?” sapa dia.
Yaampun, cowok didepanku ini. Begitu perfectnya dia. Dengan memakai hem kotak-kotak biru, celana jeans panjang, sepatu kets, behel warna pink yang menghiasi giginya dan kacamata hitam yang menghiasi kedua matanya dia menyapaku.
“Hei, kenapa diam saja? Terpesona melihatku ya?” candanya.
“Apaan sih?” aku menjawabnya dengan singkat walaupun aku masih terpesona dengannya.
“Yaelah, jutek amat sih?”
“Iya maaf” lagi-lagi aku menjawab pertanyaannya dengan singkat, padat dan jelas.
“Kenapa kamu? Kok kayak gak semangat gitu? Gak jadi nih nontonnya? Padahal filmnya seru banget loh Tas, sayang banget kalau kamu gak nonton” rayunya.
“Ntar pacar kamu gak marah?”
Ha? Aku tanya apa barusan? Bodoh! Aku keceplosan!
Suasana hening sejenak, tiba-tiba raut wajah Sansan berubah. Seperti ada kekecewaan dan kesedihan disana.
“Maaf” kataku lirih.
“Aku gak maksud bikin kamu sedih gitu” aku melanjutkan perkataanku.
Sansan masih tidak menjawab perkataanku.
“Hei! Siapa yang sedih? Lihat nih aku senyum lebar gini, masa dibilang sedih?” dia terlihat seperti berusaha menghibur dirinya dan meyakinanku kalau dia tidak apa-apa. Tapi walaupun begitu, aku tau betul kalau dibalik senyumnya itu ada rasa sedih dan kekecewaan yang sangat besar.
“Aduh ini kok malah diem di pintu gini sih? Ayo berangkat”
Karena gak bisa mengelak, aku mengikutinya dari belakang. Seperti biasa, dengan motor honda CBR hitamnya itu kita berangkat menuju Empire XXi yang ada di Jalan Urip Sumoharjo Yogyakarta. Selama perjalanan 20 menit, kita berdua hanya diam saja. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku dan mulutnya. Setelah sampai di tempat tujuan dan sudah memakirkan motor CBR tersebut, kami pun berjalan memasuki bioskop XXi tersebut.
“Beli popcorn dulu yuk” ajaknya.
Aku hanya mengangguk dan tidak mengeluarkan satu katapun untuk menanggapi perkataannya. Setelah membeli satu box popcorn, kami pun berjalan menuju theater 6 untuk menonton film yang belum aku ketahui judul film apa yang akan kita tonton.
“Kita mau nonton film apasih San?” kataku mencairkan suasana.
“Lihat saja nanti, dijamin lucu bisa dan bisa ngelupain semua masalah yang ada Tas”
Apa maksudnya? Apa dia lagi punya masalah yang cukup berat?
Akhirnya kita sudah ada di dalam theater 6 dan duduk di baris “B” seat 13 dan 14. Aku duduk di seat 13 dan dia di 14. Selama beberapa menit, suasana masih hening diantara kita.
“San.. Aku boleh tanya sesuatu sama kamu?”
“Boleh kok. Apa Tas?”
“Jujur ya, kamu sekarang lagi jomblo apa enggak?”
“Hmm.. kenapa kamu nanyain masalah itu sih Tas? Aku lagi gak mood bicara tentang hal itu”
“Kenapa San? Kalau ada masalah, kamu bisa ceritain semuanya ke aku kok. Aku siap ndengerin, aku siap bantu kok. Kapanpun San.”
“Makasih Tasya. Oke, aku bakal ceritain semua nanti kalo kita udah selesai nonton. Sekarang, kita nikmati dulu ya filmnya” katanya sambil menunjukkan senyumnya.
“Oke siap bos! Nah gitu dong senyum, daritadi cemberut aja”
“Bukan cuma aku kali, tuh kamu juga. Aku jadi ikut-ikut kamu kan”
“Gak kreatif ih, ikut-ikut haha”
Akhirnya suasana mulai mencair, kita sudah kembali bercanda dan tertawa bersama. Ternyata kita menonton film “Furry Vengeance” film komedi dari luar negri. Gak salah! Filmnya kocak banget. Selama menonton film tersebut, aku dan Sansan ketawa terbahak-bahak. Tidak tau kenapa, rasanya aku sangat senang melihat Sansan tertawa lepas daripada melihat dia sedih seperti tadi. Selama sekitar 1,5 jam, kita bisa tertawa bersama menonton film itu. Setelah 1,5 jam berakhir, akhirnya kita memutuskan untuk makan malam di Waroeng Steak and Shake yang berada di Jalan Colombo, karena kami berdua mempunyai makanan favorit yang sama yaitu steak. Aku memesan makanan biasanya yaitu Chicken Steak dan Strawberry Float, sedangkan Sansan dia memesan Tanderloin Steak dan Chocolate Float. Sebentar kami hanya berdiam dan sibuk mengecek hp masing-masing. Terlihat di hpku ada sms dari Sasha.

From: Sarafine Natasha
Hei. Gimana nih malam-mingguannya? Pasti mengasyikkan. Gak kayak aku nih yang Cuma dirumah saja habisnya kamu tinggal berduaan sih sama Sansan hehe :p

Aku cuma nyengir aja mbaca sms dari Sasha dan gak aku jawab karena lagi gak ada pulsa haha gak modal banget ya? Si Sansan pun terlihat hanya sekedar melihat ada sms ataupun miscall lalu menyimpan hpnya ke saku kembali.
“Gimana? Masih mau cerita apa udah berubah pikiran nih jangan-jangan?” kataku.
“Hmmm mau mau saja sih sebenernya, tapi gimana ya?” dia berkata sambil menggaruk-garuk kepalanya, bukan karena gatal tapi bingung.
“Gimana apanya sih?”
“Aku bingung mau cerita dari mana. Ntar kalau aku cerita disini, trus tiba-tiba aku nangis gimana? Hahahahahahaha” candanya.
“Sansan? Kamu bercanda kan? Mana mungkin cowok yang humoris kayak kamu bisa nangis?”
“Ya bisalah, semua orang itu bisa ngeluarin airmata, apalagi kalau udah sakit hati banget”
“Sakit hati banget? Jadi ceritanya kamu ini lagi patah hati? Begitu?” tanyaku penasaran.
“Ya gitu deh” jawab Sansan singkat.
“Wah yaudahdeh, kalau gak mau cerita nggak papa kok San” kataku putus asa.
“Iyaiya aku mau cerita kok, jangan cemberut gitu dong Tas”
Aku tersenyum kecil. Sansan bercerita tentang kesedihan dan kekecewaan hatinya dari awal hingga akhir. Satu per satu kata yang ia ceritakan, aku dengarkan dengan seksama. Dia menceritakan semuanya dengan raut muka yang terlihat biasa saja, tapi aku tau pasti kalau dia sedang sedih dan sangat kecewa. Jadi, baru saja kemarin sore dia putus dengan pacarnya. Seorang cewek sebayaku yang bernama Ony tiba-tiba memutuskan Sansan dengan alasan yang kurang jelas. Ony mengaku pada Sansan kalau ia sudah tidak bisa melanjutkan hubungan yang sudah mereka jalani selama 3 tahun belakangan ini. Dan sudah terdengar kabar kalau sekarang Ony sudah mempunyai pacar baru. Kasihan sekali Sansan. Begitu malangnya dia. Diputuskan tiba-tiba oleh pacarnya tanpa alasan yang pasti padahal sudah menjalaninya selama 3 tahun. Bisa dilihat jelas dari matanya kalau dia masih sangat sayang dengan mantan pacarnya itu, mantannya yang baru kemarin memutuskan dia.
“Sabar San, semua udah jalan dari Tuhan. Mungkin ini belum waktunya. Atau mungkin Tuhan mau memberikan cewek yang lebih baik dari dia. Pasti Tuhan akan memberikan sesuatu yang indah pada waktunya kok, kalau udah jodoh gak bakal kemana deh, santai aja Sansan! Jangan sedih ya, senyum dooooong!!” aku berusaha menyemangatinya.
“Kalau kamu butuh teman curhat, kamu bisa kok pake jasaku! Aku siap dengerin dan bantu!”
“Beneran? Okedeh! Makasih ya Tasya udah mau semangatin aku disaat aku kayak gini”
“Yoa sama-sama San”
Akhirnya Sansan bisa tersenyum lagi. Aku seneng banget deh bisa lihat dia senyum gitu, daripada cemberut melulu daritadi. Jadi penasaran sama yang namanya Ony, kayak gimana sih orangnya? Dia bodoh banget! Ninggalin Sansan demi oranglain, bodoh! Kalau aku jadi dia, gak akan aku lepas Sansan dari pelukanku, gak pernah dan gak akan pernah.
Sansan mengantarku sampai depan rumah.
“Mau mampir?” ajakku.
“Gak usah, udah malem kok. Kamu istirahat aja sana”
“Okedeh. Gak usah sedih lagi ya, keep smile! Semangat!”
“Siap bos!!” jawabnya tegas sambil tertawa.
Malam itu aku pulang dengan hati yang senang, tidak seperti waktu berangkat tadi, sekarang rasanya beda. Hatiku rasanya lebih lega dan senang.

Keesokkannya hari Minggu. Aku merasa sangat sangat bosan hanya berada dirumah saja, biasanya aku main kerumah Sasha, tapi sayang siang ini Sasha sedang ada acara jadi aku gak bisa main kerumahnya, tapi nanti sore aku ada Sasha akan bermain kerumah Dila, saudara Sasha. Akhirnya aku memutuskan untuk ke toko Kaset dan CD untuk membeli album baru Secondhand Serenade yang berjudul “Hear Me Now” aku memang ngefans dan suka sekali dengan lagu-lagu Secondhand Serenade. Di I-podku pun penuh dengan lagu yang vokalisnya bernama John Vesely itu. Saat sampai di toko Kaset dan CD di daerah Malioboro itu pun, aku langsung mencari CD Secondhand Serenade terbaru.
“Huh untung masih satu nih. Pas banget deh”
Aku pun langsung menuju kasir untuk membayarnya. Sesudah membayar CD tersebut, aku keluar dari Toko Kaset dan CD tersebut dan menuju KFC untuk makan siang. KFC penuh sekali siang itu, tapi karena aku kepengen banget akhirnya aku sabar mengantri. Setelah mendapatkan makanannya, aku mencari tempat kosong untuk duduk dan makan.
“Nah itu dia ada yang kosong”
Untung saja masih ada kursi dan meja yang kosong. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju meja dan kursi yang kosong tersebut. Setelah sampai dan hampir mendudukinya, tiba-tiba ada seorang cowok yang akan makan juga di meja dan kursi yang telah aku pilih.
“Eh aku duluan nih yang dapet meja dan kursi ini” protesku.
Cowok itu pun membuka topinya. Dan ternyata, dia itu Sansan!
“Hei Sansan. Makan disini juga?”
“Loh? Tasya? Iyalah masa aku mau nonton film disini?”
“HAHA kamu tuh gak pernah serius ya. Yaudah kita makan bareng disini aja”
“Yakin? Tadi kamu protes pas aku mau duduk disini”
“Ya kan aku gak tau kalau itu kamu. Udah ah, mau duduk sini gak? Berubah pikiran nih ntar”
Sansan hanya mengangguk mantap sebagai tanda ia sangat mau duduk denganku dan makan bersama siang itu walaupun kita hanya bertemu tanpa sengaja disana.
“Kok bisa ya ketemu tanpa sengaja gini sama kamu San? Andai sama Justin Bieber hehe”
“Jodoh kali kita” katanya dengan nada cuek.
Uhuk..uhukk.uhukkk... aku tersedak mendengar perkataannya.
“Kenapa? Kaget? Shock? Apa seneng banget kalau kita itu berjodoh?”
“Iuuuuh.. PD-nya tingkat tinggi banget kamu tuh San, dasarrr!” kataku sambil mencibirnya.
Selama makan kami selingi dengan candaan-candaan yang membuatku tertawa siang itu.
“Tas, sorry ya. Gak bisa nganter kamu kerumah. Bisa pulang sendiri kan?”
“Nggak papa kali, santai aja. Ini juga aku mau dijemput Sansan kok San”
“Yaudahdeh, aku duluan ya. Ada urusan, take care ya!”
“Oke bos!!” jawabnya sambil jalan pulang.

“Hei. Tadi kamu habis makan sama Sansan Tas?” tiba-tiba terdengar suara Sasha.
“Eh kamu. Iya Sha, tanpa sengaja kok” aku memastikan.
“Oh yaudah, yuk capcus kerumah Dila” ajak Sasha.
Selama perjalanan kerumah Dila, aku bercerita banya hal kepada Sasha. Dari mulai kejadian hari Sabtu, tentang mantan Sansan dan pertemuan yang tak disangka tadi.
“Wah kalian jodoh banget tuh” komentar Sasha.
“Wah, apaan sih? Ngaco kamu” jawabku.
Setelah sampai rumah Dila, terlihat ada beberapa motor yang terpakir didepan rumah Dila. Ada 3 motor disana, honda Vario.. yamaha Vixion dan honda CBR. Apa? Sansan juga disana?
“Sha, itu kan motor Sansan? Dia disana juga?” tanyaku panik.
“Kenapa panik gitu sih? Kalau emang Sansan juga gak papakan”
Hmmmm bukannya panik gimana sih, tapi masa mau ketemu sama dia lagi sih. Tanpa sengaja lagi. Apa artinya?
Tokkk...tok...tokkk...
Sasha mengetuk pintu rumah Dila, tak lama kemudian seorang cewek berambut sebahu dengan tinggi sekitar 155 cm, memakai kaos distro dan celana pendek jeans membukakan pintu itu.
“Dilaaaaaaaaaa....” Sasha berteriak.
“Sasha lebay ah, kayak gak pernah ketemu setaun aja” Dila mencibirnya.
“Wah kamu gitu eh sama saudara sendiri” kata Sasha dengan nada sok sedih.
“Eh.. Halo Tas!” sapa Dila.
“Halo juga Dil. Apa kabar?”
“Baik baik haha ayo ayo kalian masuk” ajak Dila.
“Kayaknya lagi rame ya Dil?” aku bertanya.
“Iya itu ada temen-temen aku lagi ngumpul, ntar aku kenalin deh. Ada Sansan juga kok”
Oh ternyata benar, ada Sansan didalam. Degdegdegdeg... Kenapa tiba-tiba aku degdeg-an gini? Baru beberapa menit yang lalu aku ketemu dia biasa aja. Slow Tasya, slow! Aku menenangkan diriku sendiri.
“Halo semua. Kita kedatangan tamu baru nih. Ini saudaraku Sasha dan itu temannya Tasya” Dila mengenalkan aku dan Sasha pada teman-temannya.
“Sasha, Tasya. Ini temen-temen aku. Yang itu Sasi, itu Michael dan itu pastinya kalian udah tau kan?” Dila mengenalkan teman-temannya padaku dan Sasha.
“Iyadong. Siapa sih yang gak kenal Sansan?” canda Sansan.
“HUUUUUUUUU!!” semuanya teriak secara barengan.
Setelah itu, Dila mempersilahkan kita untuk duduk bersama teman-temannya diruang tamunya itu. Rumahnya berbentuk Joglo, halaman rumahnya sangat luas, dalam rumahnya tidak terlalu luas tapi sangat nyaman untuk ditinggali. Aku duduk diantara Sansan, Sasi dan Micahel. Sasha? Sasha bersama Dila kebelakang sebentar karena katanya ada urusan dengan mama Shanti, biasalah kan bersaudara.
“Oh ini toh San yang namanya Tasya” kata Sasi.
“Kamu tau aku?” tanyaku.
“Gimana kita gak tau? Sansan aja sering cerita ke kita tentang kamu” Micahel menjawab pertanyaanku.
“Ha? Cerita tentang aku? Gak yang jelek-jelekkan?”
“Pastinya enggak. Kata Sansan kamu itu gak ada jeleknya!” lagi-lagi Michael yang menjawab.
“Aku gak ikut-ikutan bos!” kata Sasi.
“Eh jangan percaya kata Michael Tas, dia itu sukanya ngibul. Jangan percaya ya. Michael awas kamu! Lihat pembalasanku bos!” kata Sansan mengancam.
Aku hanya tertawa melihat tingkah teman-teman Sansan dan Dila tersebut yang berarti sekarang menjadi temanku juga. Selama kurang lebih 2 jam, aku, Sasha, Dila, Sansan, Sasi dan Micahel bercanda bersama di ruang tamu rumah Dila. Setelah hari mulai malam, aku dan Sasha pamit dengan Dila, Sasi, Sansan dan Michael.
“Yaudah ya semua. Byebye!” aku berpamit dengan mereka.
“Oke bye! Take care ya Tas, Sha” kata mereka.
“Ok!” jawab Sasha.
Selama perjalanan, aku memikirkan kejadian tadi. Apa bener Sansan sering cerita ke teman-temannya tentang aku? Tapi buat apa?

Sudah kurang lebih selama 1 bulan lebih ini aku lebih dekat dengan Sansan. Dia rajin meng-sms aku setiap malam. Dia sering mengajakku jalan. Dia sering mengajakku nonton, dan lain-lain. Selama itu juga, aku yakin sekali kalau aku memang menyukai Sansan. Bahkan tidak hanya menyukai tapi menyayanginya. Tapi apa mungkin aku bisa memilikinya? Sansan hanya menganggapku sebagai sahabatnya. Apa cintaku ini hanya bertepuk sebelah tangan? Entahlah...
Hingga pada suatu malam...
When you love someone, just be brave to say that you want him to be with you....
“Siapa malam-malam begini telpon aku? Menganggu saja, sudah tau besok ada ulangan Matematika. Masih saja menganggu, hhhhhh” aku menggerutu sendiri.
“Halo? Ha? Apa? Ketemuan di taman biasa? Sekarang? Tapi....... Besok aku.......”
Tutt..tutt....tuttt...
Sansan sudah memutuskan telponnya. Belum sempat aku menjelaskan semuanya, dia sudah mematikan telponnya. Dengan berat hati dan terpaksa, aku menuju taman dekat rumahku yang sering kukunjungi bersama dengan Sansan. Dengan masih menggunakan baju rumah, aku memakai jaket bergambarkan stitch aku berjalan menuju taman. Malam itu taman sedikit lebih sepi dari biasanya.
“Akhirnya datang juga......” Sansan mengagetiku dari belakang.
“Bikin kaget aja sih, aaah. Ada apa? Mau ngomong apa? Cepat! Aku gak bisa lama-lama. Besok aku ada.............”
“Tasya! Tasya! Tau gak? Ony putus sama pacarnya! Menurutmu gimana? Kapan ya aku bisa nembak dia lagi? Gimana caranya? Kamu kasih aku saran dong sebagai sesama cewek!”
APA? SANSAN MENGAJAKKU KESINI HANYA UNTUK MENANYAKAN HAL ITU? KETERLALUAN!
“Apasih San? Gak penting banget!” jawabku ketus.
“Gak penting gimana? Ini penting banget Tas!”
“Kamu itu egois banget sih? Gak bisa mikirin perasaanku apa ya? Besok aku ada ulangan matematika! Dan itu bab susah banget! Eh tiba-tiba kamu mengajakku kesini cuma buat ngomongin masalah Ony? Hhhhhh”
“Kenapa kamu gak ngomong ke aku kalo besok ada ulangan?”
“Gimana aku mau jelasin? Baru mau aku jelasin, kamu udah motong pembicaraanku. Gimana caranya? Ha? Gimana? Pikirin dong kepentingan orang lain juga. Dasar egois!” aku jengkel dan sangat marah dengan Sansan saat itu. Dengan nada yang ketus aku berkata sambil meninggalkannya. Masih terdengar suara sayu-sayu dia meminta maaf kepadaku. Sesudahnya sampai rumah aku langsung membaringkan badanku diatas tempat tidur, dan tanpa sadar aku sudah meneteskan air mata. Semakin deras dan semakin deras............. Sansan, cowok yang aku sayangi akan menembak dan meminta mantannya kembali menjadi pacarnya lagi. Sakit dan pahit menerima kenyataan kalau cintaku padanya hanya bertepuk sebelah tangan. Malam itu, aku mencari I-podku dan memilih untuk mendengarkan lagu Why – Secondhand Serenade.



The buttons on my phone are worn thin
I don't think that I knew the chaos I was getting in.
But I've broken all my promises to you
I've broken all my promises to you.

Why do you do this to me?
Why do you do this so easily?
You make it hard to smile because
You make it hard to breathe
Why do you do this to me?

A phrasing that's a single tear,
Is harder than I ever feared
And you were left feeling so alone.
Because these days aren't easy
Like they have been once before
These days aren't easy anymore.

Why do you do this to me?
Why do you do this so easily?
You make it hard to smile because
You make it hard to breathe
Why do you do this to me?
To me, to me, to me.

I should have known this wasn't real
And fought it off and fought to feel
What matters most? Everything
That you feel while listening to every word that I sing.
I promise you I will bring you home
I will bring you home.

Why do you do this to me?
Why do you do this so easily?
You make it hard to smile because
You make it hard to breathe
Why do you do this to me?

Why do you do this to me?
Why do you do this so easily?
You make it hard to smile because
You make it hard to breathe
Why do you do this to me?
To me, to me, to me.

Tanpa sadar, aku menutup mataku secara perlahan dan tertidur pulas dengan masih tersisanya airmata di wajahku. Keesokannya, aku bangun dengan pikiran dan beban yang berat. Masih terngiang dipikiranku tentang kejadian semalam. Semua masih membikin dadaku terasa sangat sesak. Tapi aku harus semangat sekolah hari ini karena ulangan matematika -__- tadi malam kan? Tadi malam aku nangis! Aduh, semoga mataku gak bengkak hari ini. Setelah melihat ke kaca riasku, terlihat mataku sangat bengkak pagi ini akibat air mataku semalam mengalir dengan derasnya.
“Hmmm, pake kacamata ajadeh biar gak terlalu keliatan” gumamku.

Hari ini terasa begitu lama. Ulangan matematika berjalan dengan lancar, walaupun ada beberapa soal yang tidak aku mengerti sama sekali, aku hanya jawab asal saja dan berharap tetap mendapatkan nilai yang bagus. AMIN.
“Tasya....” Sasha memanggilku dengan nada yang tak bersemangat seperti biasanya.
“Ada apa Sha? Tumben lemes?”
“Aku punya kabar buruk dan kabar baik untukmu. Mau yang mana dulu?”
“Buruk” jawabku singkat.
“Eh sebentar, sebelum aku kasih tau, kenapa matamu bengkak gitu? Kayak habis nangis semalaman saja” Sasha penasaran.
“Nangis? Enggak kok, cuma kurang tidur aja” kataku bohong.
“Jangan bohong Tas. Gak mungkin kurang tidur kayak gitu. Ada apa? Jangan-jangan kamu sudah mengetahui semuanya ya? Kalau Sansaan...... su...sudah balikan sama Ony?” kata Sasha ragu-ragu.
“Apa Sha? MEREKA BALIKAN?” tanyaku dengan nada kaget dan sedikit berteriak.
“Jadi, kamu belum tau Tas? Maaf ya aku terpaksa kasih tau kamu, aku gak bermaksud bikin kamu sedih. Tapi aku gak mungkin menyembunyikan semuanya dari kamu. Cepat atau lambat, pasti kamu akan mengetahui semuanya” Sasha menjelaskan.
“Gakpapa Sha” kataku lirih dan terlihat mataku sudah mengeluarkan sedikit air mata.
“Eh tunggu dulu, jangan nangis dulu. Ada berita bahagia nih Tas!”
“Apa?”
“Kamu.... kamu.... kamu BERHASIL DAPET BEASISWA KULIAH DI AUSSIE ITU TAS!” Sasha sangat bersemangat mengatakan hal itu.
“APA? KAMU SERIUS SHA? BENERAN? GAK BOHONG?” tiba-tiba nada bicaraku berubah menjadi semangat dan raut mukaku menjadi lebih senang.
“Masa sih aku bohong? Seriuslah. Tadi bu Rini bilang ke aku, soalnya dia nyari kamu gak ketemu-temu, trus dia keburu ada acara, jadi dia sampein dulu ke aku. Selamat ya sayang” kata Sash sambil memelukku.
“Makasih ya Sha. Aku seneng banget, sekaligus.......... sedih” mukaku kembali menekuk.
“Udah yang sedih dilupain aja, gak usah dipikirin. 4 bulan lagi kita ujian, kamu harus fokus dulu buat ujian biar bisa berangkat ke Aussie. Jangan sia-siain itu loh Tas. Cowok bisa dicari, tapi ini? Kesempatan cuma datang sekali. Tenang aja, pasti disana banyak cowok lebih keren” hibur Sasha.
“Iya sayang.. Makasih ya”
Mulai hari itu, aku bangkit kembali. Walaupun gak bisa dilupakan kalau Sansan sudah kembali menjadi milik Ony. Aku sudah bertekat untuk melupakan Sansan selama-lamanya. Dan akan memulai lembaran baru lagi. Selama 4 bulan penuh aku mempersiapkan Ujian Nasional dengan sungguh-sungguh, dan selama itu juga aku lost contact dengan Ihsan. Sudah gak ada nama ‘Sansan’ lagi di otakku, yang ada hanya ‘Ujian Nasional dan Kuliah di Aussie’ sampai akhirnya tepat di awal bulan Mei, aku telah menyelesaikan Ujian Nasional yang diadakan selama 4 hari. Dan selama satu bulan pun aku jantungan menunggu hasil Ujianku itu. Tapi aku yakin, pasti aku lulus dengan NEM yang baik. Selama satu bulan itu, aku memutuskan untuk pergi ke tempat Tante di Jakarta untuk berlibur, sekalian deh buat menghilangkan semua streess dan masalah yang ada di Jogja.

Hari itu tanggal 10 Juni. Dimana hari itu adalah pengumuman yang menentukan masa depanku. Tuhan, tolooong. Tuhan, tolooong.. LULUS! Di sepanjang perjalanan hanya itu yang aku katakan dalam hati. Sesampainya disekolah..............
“YEEES!!!! PUJI TUHAN! AKU LULUSSSSSSS!!” teriakku senang bersama dengan teman-teman yang lainnya.
Saat itu aku merasa sangat sangat sangat bahagia karena aku telah resmi LULUS SMA dengan NEM yang cukup sempurna yaitu 38,95. Dan itu berarti, aku PASTI BERANGKAT KE AUSSIE! YES YES YES! Sunggu semua ini seperti mimpi, tidak menyangka usahaku selama ini tidak sia-sia. Sansan? Bagaimana dengan Sansan? Tiba-tiba aku memikirkannya.
“Hmm.. Tidak penting” gumamku.

00.00, 25 Juni 2015. Tepat hari ini umurku genap 18 tahun. Berarti hari ini, tepatnya malam ini aku akan berangkat menuju Aussie dan meninggalkan Indonesia selama kurang lebih 3 tahun. Berat memang, tapi ini demi masa depanku. Toh hanya 4 tahun, untuk selanjutnya bisa dilihat besok. Yang jelas juga selama 3 tahun ini, aku akan bolak-balik Aussie-Yogyakarta karena orangtuaku akan tetap berada disini. Hari ini, aku hanya mengadakan pesta kecil-kecilan dirumah. Tepat pukul 4.00 sore sudah banyak orang yang berkumpul dirumahku dengan membawa kado dan ucapan “Selamat Ulang Tahun” untukku. Sore itu, aku akan merayakan ulang tahunku yang ke-18 serta akan berpamitan dengan orang-orang yang akan aku undang. Dengan menggunakan dress berwarna hitam selutut dengan hiasan pita di tengah dress tanpa lengan dan dibalut dengan cardigan hitam dan memakai highells hitam pula, aku menyambut setiap tamu yang datang. Pastinya salah satu orang yang berkerumun disana ada Sasha. Dia sahabatku terbaik yang pernah aku punya. Berat sekali untuk meninggalkannya di Jogja, tapi dia janji untuk sesekali bermain ke Aussie dan berlibur disana.
“Tasya.... Huhu sedih” katanya.
“Sama banget Sha. Hhu”
“Eh kamu gak boleh sedih, kan disana mau menuntut ilmu. Lagian kita masih bisa telponan, smsan dan aku akan kesana besok waktu liburan! Gak boleh sedih loh ya, janji?”
“Janji sayang” kataku.

Happy birthday to you..
Happy birthday to you..
Happy birthday, happ birthday..
HAPPY BIRTHDAY TO YOU..

Semua tamu menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” versi Inggris untukku. Setelah menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” saatnya tiup lilin dan pemotongan kue, pastinya kue yang pertama akan kuberikan pada orang tuaku dan yang kedua untuk sang sahabat, Sasha. Acara selanjutnya adalah makan bersama. Pada saat aku sedang asyik makan malam diluar bersama Sasha, tiba-tiba temanku ada yang datang dan berkata,
“Tit, ada yang nyariin kamu tuh”
“Siapa?” tanyaku.
“Kurang tau deh, tapi cowok kok”
Aku dan Sasha saling menatap tanda saling penasaran siapa yang mencariku.
“Yaudah, suruh kesini aja” suruhku.
Selama beberapa menit aku dan Sasha menunggunya, sampai.....
“Hei. Happy Birthday Tasya” katanya sambil menyodorkan sebungkus kado dan sebingkai bunga untukku. Saat aku menoleh dan hendak menerima hadiah itu.......
“Sansan?” aku sedikit berteriak karena aku benar-benar kaget.
“Hei, lama gak ketemu ya. Happy Birthday, wish you all the best!” katanya.
Aku masih diam terpaku melihat sosok Sansan yang sekarang ada didepanku ini. Dia tak banyak berubah, masih dengan behel dan kacamata yang menghiasi wajahnya.
Tapi? Bagaimana mungkin dia bisa disini? Aku tidak mengundangnya, tak ada satupun orang mengundangnya. “Tamu tak diundang” ucapku lirih. Memang, sejak kejadian dulu aku sudah memaafkan dia, tapi tidak semudah itu menghilangkan rasa sakit hati ini. Apalagi aku berniat untuk melupakannya selamanya, tapi kenapa orang ini muncul dihadapanku lagi? Masih belum cukup menyakiti perasaanku ini?
“Eh, jangan marah dulu Tas” ucap Sasha tiba-tiba.
“Biar dia jelasin semuanya dulu” Sasha melanjutkan perkataannya.
“Sasha bener, ijinin aku ngejelasin semuanya” Sansan menyela.
“Yaudah cepet, aku gak punya banyak waktu untuk hal penting ini” aku berkata sambil membuang muka ke belakang dan sekarang aku tidak berhadapan muka dengan Sansan lagi melainkan membelakanginya.
“Tas.. Aku mau minta maaf sama kamu. Aku akui aku salah, malam itu aku egois banget sama kamu. Aku gak pernah mikirin perasaan kamu yang ternyata selama ini sangat menyayangiku, tapi aku malah menyia-nyiakan perasaanmu dan dengan santainya meminta saran bagaimana caranya agar aku bisa balikan dengan Ony lagi. Tapi Tas, aku sadar. Ony bukan yang terbaik buat aku. Malam itu dia mengajakku balikan, betapa bahagianya aku saat itu. Tapi jalan satu bulan aku berpacaran dengan dia, aku malah selalu memikirkanmu. Aku rasa ucapanmu waktu itu benar, Ony bukan cewek terbaik yang Tuhan beri untuk aku. Melainkan kamu Tasya, kamu. Please, kamu mau kan maafin aku dan mengulangnya dari awal lagi?” Sansan menjelaskan semuanya padaku. Tanpa sadar waktu itu, sudah ada air mata yang menetes di pipiku.
“Maaf San. Aku gak bisa” kataku sambil mengeluarkan airmata yang gak bisa berhenti ini.
Tiba-tiba Sansan sudah ada didepanku dan memegang kedua pundakku.
“Tasya.. Lihat aku, lihat mataku..” paksanya sambil memegang wajahku dan mengarahkannya ke wajah dan matanya.
“Aku masih bisa melihat rasa sayang dari sorot matamu Tasya. Please, jangan bohongi perasaanmu” kata Sansan.
“Dasar sok tau! Kamu sudah bisa meramal dari sorot mata orang? Please San, jangan paksa aku. Dan jangan rusak hari ulang tahunku!” bentakku sambil menyingkirkan kedua tangan Sansan yang tadi masih memegang wajahku.
Aku masih menangis tersedu-sedu dipelukan Sasha.
“Tasya.. menurutku kamu terlalu kasar tadi sama Sansan” katanya.
Aku hanya diam saja.
“Dan menurutku benar apa yang dikatakan Sansan, kamu jangan membohongi perasaanmu sendiri” Sasha melanjutkan perkataannya. Akupun melepaskan pelukan Sasha dan menatap Sasha.
“Aku sebenarnya tidak ingin membohongi perasaanku ini Sha, tapi dalam waktu kurang dari satu jam lagi, aku akan berangkat menuju Aussie dan kalau begitu aku akan meninggalkan Sansan sendirian disini. Aku gak mau, aku gak mau diantara kita berdua ada yang sakit hati lagi. Aku gak ingin ngeliat Sansan sedih Sha” aku menjelaskan yang sebenarnya pada Sasha.
“Gak akan ada hati yang terluka lagi Tasya” tiba-tiba suara Sansan terdengar.
“Kamu tenang saja, aku akan menunggumu selama 3 tahun ini”
“Serius?” jawabku lirih.
“Apa mukaku ini tidak meyakinkan?”
“Tasya.. Lihat aku, lihat mataku” lagi-lagi dia memegang wajahku tepat di pipiku, tapi kali ini ia sambil menghapus air mata yang ada disana.
“Aku sayang banget sama kamu. Aku sadari itu sejak kejadian malam itu Tasya. Malam itu, saat kamu marah denganku, aku sudah putus asa. Aku bingung mau melakukan apa agar kamu memaafkanku. Dan juga aku tidak ingin mengganggu kefokusanmu untuk menghadapi UN ini. Dan setelah aku tau bahwa ini adalah hari ulang tahunmu, maka aku memakai waktu ini untuk meminta maaf. Sorry Tasya, but I really Love You and I don’t wanna lose you.” Katanya.
“Tapi Sansan apa kamu yakin akan menungguku selama 3 tahun? Itu bukan waktu yang singkat”
“YAKIN BOS!” jawabnya mantap.
“Hmmm Sansan....” panggilku dengan suara lirih.
“I love you too” jawabku.
“Really?” Sansan meyakinkan.
“Yes sure!” jawabku dengan mantap.
“Ok. I really ready to wait you in 3 years”
Malam itu menjadi malam terindah bagiku, aku bisa berdama kembali dengan Sansan bahkan aku mengetahui bahwa sebenarnya Sansan juga menyayangiku selama ini.

Tepat pukul 8.00 malam, aku berpamitan dengan seluruh tamu. Karena sudah waktunya aku berangkat ke Aussie malam itu. Berat sekali meninggalkan seluruh isi kota Yogyakarta selama 3 tahun. 3 tahun bukanlah waktu yang singkat. Tapi demi kedua orangtua, Sasha dan Sansan aku harus berjuang demi membuat mereka bangga terhadapku.

3 tahun kemudian................

“Yaampun. Yogyakarta! Akhirnya aku balik lagi kesini!” gumamku ceria.
“Mana Sansan? Katanya akan menjemputku ontime?”
“Sudah menunggu lama ya mbak?” tiba-tiba seorang laki-laki berbicara didekat telingaku.
“Hey! Don’t talk near my ears!” jawabku reflek, karena udah terbiasa ngomong pake bahasa inggris disana, jadi keikut deh waktu disini.
“Ciyee yang habis kuliah di Aussie, ngomongnya jadi pake bahasa inggris gitu”
“Yaampun Sansaan.. Kamu tuh selalu ya, jailnya gak pernah ilang”
“Tasya.. Kamu banyak berubah, makin cantik aja yaaaa” rayu Sansan.
“Oh jadi penggombal nih sekarang?”
“Ah udah ah, sini peluk sini. Kangen banget nih aku” pintanya sambil memasang muka melas
“Apaan peluk-peluk? Malu ah, dibandara gini. Tempat umum woy!”
“Ah gak peduli” jawabnya sambil memelukku. Pelukan ini. Pelukan yang sangat hangat dan nyaman banget rasanya. Pelukan yang penuh dengan rasa kasih sayang. Benar-benar, selama 3 tahun gak ketemu sama Sansan, aku sangat merindukannya, sangat merindukannya.
“Tasya. Do you want to be my girlfriend?” tanyanya tiba-tiba.
“Sansan! Kamu nembak aku ditempat kayak gini? Gak romantis ah”
“Kan nembak gak harus dengan cara romantis. Yang penting perasaan nih” jawabnya sambil menunjuk-nunjuk dadanya.
“Hmmm.. I’m stupid her if I don’t want to be your girlfriend” jawabku.
“So? We are in a relationship now?”
“Aha!” kataku sambil mengangguk.
“I Love You my girlfriend” kata Ihsan sambil mengecup keningku.
Waw, percaya gak percaya saat itu. Selama 3 tahun aku dan dia saling menunggu dan 3 tahun sudah berhasil kami lewati. Selama 3 tahun ini kami saling menunggu dan setia, hingga akhirnya Tuhan memperbolehkan kami berpacaran sekarang. Apa benar ini yang namanya JODOH? Entahlah, hanya Tuhan dan waktu yang akan menjawabnya.

-THE END-